cari di sini

September 23, 2009

.messagefromheaven.

1 new message!

.CicikCikiCikiCik.
*shocked*
Rr, selamat hari lebaran ya nak, maaf lahir dan bathin dari Cicik, Adung dan Tante. Semoga sukses di segalapekerjaan. Salam utk semua keluarga. GBU
**Smile**

Thank you mama Ida, aku selalu lupa kalau mama suka pakai nomer Cicik.
Kalo bisa, Cicik pasti udah di depan rumah dan menculikku.. Hihi,,tapi Mama Ida selalu buat aku tersenyum di saat-saat yang mengejutkan.. :D
Cicik sayang, tenang ya di surga. Jangan sering-sering ngebut, kesian si Mama Ida, pasti deg-degan terus..Minal Aidin ya CIk, maafin kalo gw belum sempet bilang gw sayang banget sama lo.. :)

Top 10 traits

gara-gara ngga bisa tidur setelah main bridge lawan papa dan sepupu2 gw, akhirnya gw iseng ikut tes dari @toso tentang Top 10 Traits.. (http://psychcentral.com/personality-patterns/)
Karena hasilnya bagus,,maka gw post di sini.. (huahahaha)
Here's the detail:

Accessible
You're comfortable expressing yourself in words and actions, with no self-censorship. -ahahaha,,thanks God i'm not working for KPI- You believe that if someone doesn't like what they see it's not your problem, but theirs.-indeed,,there's enough other people..just be yourself!- A high score on the "accessible" trait suggests that you have a lot of friends, socialize often, and enjoy rap/hip-hop music.
You don't see the need to keep your thoughts to yourself, or to have a zone of privacy that encompasses only yourself and a small circle of friends and relatives.

Impulsive
You trust your your instincts. -maybe i would say it as brainless- What others may see as rash behavior is, for you, simply going with your gut. Individuals with a high score on the "impulsive" trait tend to try new, sometimes outrageous, things.
You are not timid. For you, spending time microscopically examining the pros and cons of every decision means never getting anything accomplished.

Warm
You have a genuine interest in other people. You're a natural host, and are always thinking about how you can increase the happiness of those around you. -and sometimes it kilss me- When friends have problems or are in trouble, you're usually the first person they turn to for aid and comfort. Scoring high on the "warm" trait suggests that you are among those who enjoy domestic activities — doing things around the house — and are enthusiastic about charitable work, helping others, and making the world a better place.
You don't always say exactly what you're thinking; you don't like the idea of causing anyone pain because of your criticism. -let's say, easily, I'm an "F" people. and yet, tired being "F"-

Understanding
You are willing to take the time to find out what's going on with other people, especially if they're in distress. You're a good listener, you don't criticize, and you offer unbiased, respectful, honest advice when it's requested. -we have two ears and one mouth..we should listen more and talk (a little) less- With a high score on the "understanding" trait, it is likely that you are enthusiastic about charitable work, helping others, and making the world a better place.
You don't feel the need to impose your standards on others or say things that, even though true, cause pain.

Innovative
You come up with a lot of ideas; if one doesn't work out, there's always another waiting in the wings. You often have interesting solutions to difficult problems. You're practically a one-person brainstorming session. -bawel?-
You are less interested changing the world than in dealing with things as they are. Unlike those who spend all their time trying to solve problems, you prefer to zero in on things that work and stick with them.

Aesthetic
You appreciate art, beauty, and design; you know that they are not superficial but absolutely crucial to living the good life. You have good taste, and you're proud of it. Those with a high score on the "aesthetic" trait are often employed in literary or artistic professions, enjoy domestic activities — doing things around the house — and are enthusiastic about the arts, reading, and travel.
You don't think it's pretentious to be moved by art and beauty. You're not one of those who believe it doesn't matter what something looks like as long as it does its job.

Creative
You are good at solving problems, coming up with original ideas, and seeing connections between things, connections that most other people miss. People with a high score on the "creative" trait often are employed in such fields as finance and scientific research, and enjoy avant garde and classical music as well as literary fiction and scholarly non-fiction.
You do not shun abstractions and concepts in favor of the concrete and tangible.

Competent
You strive to master everything you undertake. You tend to learn quickly and do not shy away from challenges. -ngga tahu malu mungkin..-
You are not a "que sera sera" type of person, nor do you go easy on yourself when attempting to master a new skill or get a job done.

Astute
You are a quick study. You generally don't need to have things explained to you more than once. When presented with a problem, you will often have an instant understanding of where to look for the solution.
You do not take your sweet time when presented with a new task to complete or problem to solve. You don't avoid assignments that require you to learn new skills.
-ahahaha..yang ini mah pongah-

Intellectual
You are thoughtful, rational, and comfortable in the world of ideas. People find you interesting to talk to. You're the living embodiment of the saying "You learn something new every day." In general, those with a high score on the "intellectual" trait are employed in such fields as teaching and research, and are enthusiastic about reading, foreign films, and classical music.
You do not avoid abstract conversation, experimenting with new ideas, or studying new things. It bores you to stick to the straight and narrow of what you already know.


September 20, 2009

tentang seorang sahabat

Pernah merindukan seorang sahabat?
Pernah menyesal karena yang hanya bisa terjadi adalah merindukannya?
Saya sudah bisa tertawa saat saya hanya bisa merindukan seorang sahabat.
Karena saya tahu, di sana Ia sedang ngebut dengan mobil sportnya, sambil menggenggam Corona di tangan kanannya dan happy toss di tangan kirinya.
Ahaha, tidak lupa, handsfreenya juga siap di telinganya. Dia kan tidak bisa sendirian.
*kalo ada sambungan interalam yang mengalahkan teknologi SLI apalagi interlokal, pasti dia sudah menelpon saya setiap malam*

Hey, jejaka muda, saya sedang tertawa!
Tertawa karena saya sangat merindukan Anda.
Tertawa, karena saya tahu, air mata bisa membuat Anda menyesal meninggalkan saya.
Padahal, saya tahu Anda tidak meninggalkan saya, hanya pergi melepas semua yang menahan Anda tertawa di dunia!

Sayangku,
Saya tidak cemburu kalo kamu dekat dengan Veronica, gadis cantik yang tidur di sebelah persemayamanmu!
Tapi, kalau sampai kamu lupa datang ke mimpiku, lihat saja!

*untuk jejaka muda selalu*
--15 ok 82 - 28 nov 06--

September 02, 2009

MEDIA HARUS LEBIH BIJAK!

MEDIA, BE WISE, BE SMART!!

Saya baru saja menyaksikan berita tentang masalah jiplak-menjiplak lagu Terang Bulan menjadi lagu kebangsaan negara tetangga. Dari sumber-sumber yang saya baca, Lagu Terang Bulan, Notasi balok dan lagunya merupakan lagu ciptaan musisi Prancis Pierre-Jean de Béranger dengan judul "Malayan's Moon". Lagu ini kemudian di-Indonesiakan dengan judul "Terang Bulan". Disebutkan kemudian, pada tahun 1952 mantan Presiden Soekarno MENGHADIAHKAN lagu tersebut kepada negara tetangga karena negara tersebut memang belum memiliki lagu kebangsaan dan juga miskin komposer untuk menciptanya (seperti dikatakan oleh Metro TV).
Apabila melihat sejarah dan latar belakang Lagu kebangsaan tersebut, KITA TIDAK BISA MENGATAKAN LAGU KEBANGSAAN NEGARA TETANGGA ITU MERUPAKAN JIPLAKAN, atau menuduh mereka mencuri lagu "Terang Bulan".
Yang ingin saya tegaskan di sini adalah: MEDIA, SAYA MEMOHON KEBIJAKAN KALIAN DALAM MENYAMPAIKAN BERITA. Sampaikan berita seperti ini dengan bahasa yang SEJELAS MUNGKIN, TIDAK AMBIGU DAN TIDAK PROVOKATIF.
Karena kita tidak dapat memukul rata aksesibilitas rakyat Indonesia, yang konon nasionalismenya tinggi, terhadap internet. Kita harus sadar bahwa Media TELEVISI masih menjadi Sumber pemberitaan utama bagi rakyat. Maka dari itu, ketika MEDIA TELAH MENGETAHUI BAHWA HAL INI BUKAN SUATU PENJIPLAKAN maka berhenti menyebut kata tersebut. Karena ketika MEDIA terus mengatakan hal ini walaupun diteruskan dengan bantahan atau penjelasan berikutnya, HAL NEGATIF INI YANG TELAH TEREKAM DI MASYARAKAT.
Akibatnya? Rakyat kita, dengan Nasionalisme yang berkobar, tapi kemampuan mencari, serta menyaring berita yang minimalis, menjadi membabi buta memberi kecaman, makian dan hujatan PADA MEREKA YANG TIDAK BERSALAH (dalam masalah ini) serta menghujat sesuatu YANG TIDAK PERNAH ADA ATAU TERJADI.
Maka, sekali lagi, Media, Bertindak bijak dan berlaku pintarlah, karena ANDA masih menjadi penyalur utama berita ke lapisan besar Rakyat Indonesia. Jangan menjebak rakyat negaramu sendiri. Jangan menjebloskan dan mencoreng bangsa sendiri.
Saya Warga Negara Indonesia, dan Masih sangat berbangga dengan semua yang dimiliki Indonesia. Tapi berhentilah menjadi pongah.

*bacaan:

August 27, 2009

Pelecehan Lagu Indonesia Raya oleh Negara Tetangga?

Tiba-tiba menjadi penasaran ketika membaca status seorang teman tentang Malaysia yang dituding melecehkan lagu Indonesia Raya. Setelah mendapatkan link-nya dari Rani Sukma, (Pelecehan Teks Indonesia Raya) saya kemudian berpikir: Pertama, apakah benar hal ini dilakukan oleh Malaysia? Bagaimana bila hal ini dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Bahasa Melayu dapat dipelajari, kita pun bisa membuat teks ke-melayu-melayu-an seperti teks tersebut. Jika Anda menghadapi kesulitan, hubungi Charly ST12, mungkin beliau bisa membantu Anda. *Duh, maaf, ini ngga sengaja keketik, saking saya introvert jadi apa yang di otak ikut keketik juga*
Bagaimana kalo ini dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin hubungan dua negara ini semakin buruk, mungkin dengan alasan nasionalisme: kesal dengan semua ulah negara tetangga itu. Mungkin juga karena gejolak kaWula muda yang memang senang dengan konflik.
Namun, apabila memang hal ini dilakukan oleh pihak negara tetangga, saya rasa, kita tidak perlu memperburuk hubungan antara Indonesia dengan negara tersebut. *Ya, maksud saya, DIPUTUS AJA KALI YA, HUBUNGANNYA. LAH DARIPADA BERHUBUNGAN TAPI CUMA BISA BIKIN ORANG INDONESIA NAMBAH DOSA KARENA KERJAANNYA MARAH-MARAH SAMA MISUH-MISUH, PADAHAL NGGA TAHU JUGA SIAPA DALANGNYA*
Kedua, Saya juga merasa hal ini pukulan telak bagi rakyat Indonesia. Ketika AFC 2006 silam, saya pernah menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama hampir seluruh orang yang berada di stadion utama Gelora Bung Karno. Memang sangat Hikmat dan menggetarkan jiwa. Namun, saya tidak akan munafik, hal ini hanya saya rasakan ketika kita berhadapan dengan bangsa atau negara lain. Ketika kita akan bertanding melawan negara lain, atau berada di sebuah konvensi internasional, atau menjamu pihak internasional. Bagaimana dengan menyanyikannya di upacara bendera? Bagaimana menyanyikannya ketika wisuda di balairung tadi? Bagaimana menyanyikannya ketika rapat-rapat dewan negara? bagaimana menyanyikannya ketika membuka satu ajang nasional? Sejujurnya saya prihatin.
Saya pernah melarang suatu acara menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Hal ini dikarenakan saya tidak yakin peserta dapat menyanyikan Lagu yang agung ini dengan hikmat. Hal ini saya lakukan karena satu pengalaman serupa. Ketika pembukaan satu pertandingan nasional di Senayan. Saat itu Bapak Agum Gumelar meminta panita mengganti lagu Indonesia Raya dengan lagu kebangsaan lainnya. Namun, panitia tetap memaksakan peserta menyanyikan lagu tersebut. Hasilnya, Bapak Agum Gumelar yang memberi sambutan, menegur semua orang dalam sambutannya atas sikap kita ketika menyanyikan lagu tersebut. Saat itu juga saya merasa itu sangat benar!
Sekarang, marilah kita berkaca. Kita, mungkin, memang tidak pernah menghina lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. Tapi, APAKAH KITA TELAH MEMBERI PENGHORMATAN YANG PANTAS UNTUK LAGU TERSEBUT? Apakah kita berdiri tegap ketika menyanyikannya? Atau sambil garuk-garuk? tengak-tengok? berdiri dengan santai? Apakah kita sadar bagaimana perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi merdekanya Indonesia, sehingga Lagu ini bisa berkumandang tanpa perlu sembunyi-sembunyi.
Sangatlah mulia ketika kita membela negara kita di mata dunia. Tapi lihatlah ke dalam. Adakah kita telah benar-benar menghargai negara kita? Apakah kita perlu sejuta pemicu dari luar untuk kemudian terbakar dan mati-matian membela negara kita? Atau berangkat sekarang ke masa lalu, untuk menghargai apa yang kita punya sekarang?

*Bukan berarti kekesalan saya hilang ya dengan negara tetangga itu, saya masih sangat kesal kok. Tapi mencoba untuk introspeksi sebelum memaki.*

August 20, 2009

Kebudayaan yang kerap dicuri

Budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Indonesia adalah negara yang berbudaya. Manusianya memiliki kapasitas yang besar untuk mencipta, merasa dan membangun karsa yang tinggi. Bagaimana dengan bangsa yang selalu mencuri budaya bangsa lain?
Bangsa yang kerap mencuri kebudayaan, adalah bangsa yang tidak memiliki budaya. Saat mereka tidak memiliki budaya, apakah karena manusianya yang tidak memiliki kemampuan untuk mencipta, merasa dan membangun karsa? Kreativitas adalah kemampuan tertinggi manusia. Kita mampu mencipta dan mengembangkan suatu kebudayaan, kesenian, dengan kreativitas kita. Bagaimana dengan bangsa yang kerap mecuri kebudayaan dan kesenian bangsa lain? Ya, mungkin bangsa tersebut memang tidak memiliki cukup kreativitas.
Patutkah kita marah? Patut. Namun patutkah kita bangga? Lebih patut lagi. Bukan karena kita membiarkan kebudayaan dan kesenian kita dicuri. Namun karena tingginya nilai budaya dan kesenian kita, sehingga apa yang kita miliki secara turun-temurun dicuri. Tidak akan suatu hal dicuri atau direbut, apabila sesuatu hal tersebut tidak memiliki nilai atau harga yang tinggi, bukan? Maka dari itu, jika kita pernah lupa berbangga diri dengan kebudayaan kita, kesenian kita, serta kekayaan kita. BERBANGGALAH, mulai dari sekarang!
Di balik kemarahan atas apa yang telah terjadi, ada baiknya kita berterima kasih. Dengan semua 'klaim' dan kisah 'curi-mencuri' ini, nasionalisme kita digugah. Mungkin sesaat kita lupa, sesaat hal ini padam. Dan ketika hal ini terjadi, kita berlomba-lomba mengutuk pencurinya. Kemana saja kalian sebelum kita 'kecopetan'? Kita juga patut berterima kasih. Selain membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan kita akan budaya dan kesenian kita, dengan adanya hal ini, semoga mereka juga memperkenalkan budaya kita ke mata dunia. Semoga lantas dunia juga tahu, akar dan asal asli dari kebudayaan dan kesenian ini. Karena di balik kebudayaan dan kesenian, biasanya akan ada kisah atau latar belakang demografisnya.
Ya sudah, cukuplah kuliah hari ini. Semoga kemarahan, kekesalan, dan kemurkaan ini bukan hanya cambuk sesaat. Semoga kebanggan, nasionalisme dan kobaran semangat ini juga tidak hanya sesaat. Batik milik kami, mungkin juga milik yang lain. Angklung milik kami, tanah kami subur penuh kebun bambu. Reog milik kami, konon banyak raksasa pemangsa di cerita buyut-buyut kami. Rasa Sayange milik kami, lihatlah negara kepulauan kami. Maka kami nyanyikan: "lihat kapal dari jauh.." Tari Pendet milik kami, silakan pelajari sejarah kami.

August 16, 2009

Penyelaman massal, haruskah?

Rekor penyelaman di pantai Malaraya, Manado Utara. Perlukah?

Di balik setiap aksi, ada motivasi. Namun di balik setiap aksi ada akibat yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan. Penyelaman massal yang telah memecahkan rekor dunia memang memiliki motivasi yang baik untuk negara ini, terlebih lagi negara kita dikenal sebagai negara maritim. Pemecahan rekor ini memang membawa nama Indonesia ke kancah internasional, namun entah mengapa, saya masih sinis mendengarnya.
Mencoba melihat dari sisi lain. Saya memang tidak tahu detil dari pemetaan penyelaman acara ini. Namun, membayangkan ribuan penyelam akan menyerbu laut ada ketakutan terbesar yang hadir di otak saya. BAGAIMANA NASIB TERUMBU KARANG DI SANA? BAGAIMANA NASIB IKAN DI SANA? Apakah ribuan penyelam tidak akan merusak ekosistem mereka? Apakah ribuan penyelam tidak akan membuat ikan-ikan di sana stress karena harus berebut tempat dengan monster-monster darat yang menggunakan tangki oksigen di dalam laut? Hanya membayangkan, membuat saya muak dan kesal.
Melihat siaran langsung, saya tidak tahu harus berpikir apa. Toh, yang terlihat hanya gelembung-gelembung udara. Semoga mereka tidak merusak terumbu-terumbu karang yang indah. Atau merusak terumbu-terumbu karang yang baru mulai tumbuh. Semoga mereka tidak mengusir atau membatasi pergerakan ikan-ikan laut yang biasanya berenang bebas. Yang lautnya pun telah tercemar dan terkontaminasi oleh ulah-ulah manusia. Semoga.
Hanya mencoba berpikir dari sudut pandang lain. Apalah artinya nama kita dikenang di moment ini dalam pemecahan rekor penyelaman massal, apabila bertahun-tahun kemudian keindahan terumbu karang dan ikan-ikan harus terganggu. Mendapatkan nama dalam aksi puncak sesaat, merusak sesuatu yang mebutuhkan waktu pulih yang lama.
Semoga ini hanya ketakutan saya semata. Yang selama ini kadang terpikir tidak perlu mengekspos secara berlebihan keindahan alam Indonesia, hanya karena takut keindahan ini hilang karena tangan-tangan pihak komersil yang dengan mudahnya membangun dan 'mempermudah' wisatawan, namun merusak keindahan asli alam itu.
Untuk segala aksi, akan ada akibatnya. Semoga apa yang telah dicapai manusia Indonesia, tidak berdampak buruk bagi kehidupan laut Indonesia. Selamat kepada para pemecah rekor penyelaman massal. Semoga apa yang saya tulis di sini, hanya tulisan semata.

July 07, 2009

Michael Jackson - Childhood

This is one of Michael Jackson that i LOVE so Much..

CHILDHOOD

Have you seen my childhood?
I'm searching for the world that i come from
'cause i've been looking around
In the lost and found of my heart...
No one understands me
They view it as such strange eccentricities...
'cause i keep kidding around
Like a child, but pardon me...

People say i'm not okay
'cause i love such elementary things...
It's been my fate to compensate,
For the childhood
I've never known...

Have you seen my childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like pirates in adventurous dreams,
Of conquest and kings on the throne...

Before you judge me, try hard to love me,
Look within your heart then ask,
Have you seen my childhood?

People say i'm strange that way
'cause i love such elementary things,
It's been my fate to compensate,
For the childhood i've never known...

Have you seen my childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like fantastical stories to share
The dreams i would dare, watch me fly...

Before you judge me, try hard to love me.
The painful youth i've had
Have you seen my childhood....

June 04, 2009

Surga di telapak kaki Ibu

Sebenarnya, ini bukan notes yang spesial. Tapi hanya ingin menuliskan apa yang gw anggap patut diingat aja. Kemarin, 2 Juni ,gw menyaksikan acaranya Tukul, Bukan Empat Mata, dan bintang tamunya adalah oh-cepetan-pergi-ke-dokter-jangan-roadshow-aja-Manohara dan Ibundanya. Ya, bukan itu sih inti notesnya, kan gw bilang gw ingin menuliskan apa yang gw anggap patut gw ingat. Dan lo ngga berpikir kalo siapa bintang tamu di Bukan Empat Mata itu patut diingat kan?
Intinya, dalam acara itu, Tukul membuat satu pernyataan yang WOW banget buat gw. Ya, entahlah itu adalah ide si Mas Tukul atau ide siapapun-dia-yang-seharusnya-dibayar-lebih-mahal-karena-dia yang mengendalikan Tukul lewat laptopnya. Tapi tiba-tiba terucap dari mulutnya Mas Tukul:
" Ya, Surga itu di telapak kaki Ibu, makanya cari Ibu yang banyak..Biar surganya banyak.."

Wow, buat gw ini Wow banget. Entah kenapa kalimat ini Bagus banget buat gw, walaupun agak ambigu, sampai si Vega dan orang-orang -yang mungkin mikirnya ke arah poligami- tertawa dengan celotehnya si Mas Tukul. Nampaknya, gw menangkap apa maksud (semoga) sebenarnya dari kalimatnya Mas Tukul. Dan, benar saja, Mas Tukul kemudian bilang:
"Cari Ibu yang banyak tuh bukan cari Ibu-Ibu sebanyak-banyaknya (dikoleksi, red.) tapi tuh berbuat baik sama perempuan-perempuan,, ...."

Yes, ini yang gw tangkep dari kata2nya Mas Tukul. Bukannya gw merendahkan kaum Ayah atau kaum Pria ya, tapi kan bunyi pepatahnya emang begitu..'Surga di telapak Kaki Ibu.' Gw setuju banget dengan kata-kata: carilah surga sebanyak-banyaknya. Yang artinya, perlakukanlah setiap wanita sebagaimana kalian memperlakukan Ibu kalian sendiri. Percaya deh, gw ngga bisa mengungkapkan gimana rasanya saat lo bisa membantu seseorang -terlepas ini Ibu-Ibu atau Bapak-Bapak sih-, tapi kalo bisa gw simpulkan dengan kata-kata: itu rasanya indah banget.

Hua, mungkin, bisa dibilang setiap kali gw berbuat sesuatu, dengan ke-Feeling-an gw, gw ikhlas ngga ikhlas. Contohnya, ketika mungkin gw memberi tempat duduk, menyebrangkan, atau mungkin membeli sesuatu dari seorang ibu tua renta yang berjualan, gw mikir: 'huff, hidup ini agak keras ya buat mereka..semoga kalo someday orang tua gw mengalaminya, ada orang yang juga membantu orang tua gw.' Well, gw memang harus belajar ikhlas untuk melakukan sesuatu. Tapi, untuk sekarang ini, motivasi ini yang bisa mendorong gw untuk bisa membantu orang di sekeliling gw.

Ya, semakin panjang notes ini yang ada gw malah akan riya dan pongah. Maka gw cuma berpesan, Surga di telapak kaki ibu, maka, carilah surga sebanyak-banyaknya.
Buat para Ayah, tunggu ya, akan ada notes tentang kalian. :D