cari di sini

Showing posts with label just a thought. Show all posts
Showing posts with label just a thought. Show all posts

March 27, 2015

'ngomong kasar' vs 'korupsi'

disclaimer: ini pemikiran pribadi saya, ngga ada sangkut pautnya sama profesi saya, ataupun pekerjaan saya. iya, lagi sedih aja karena wall facebook saya jadi banyak sindir-sindiran antar 2 kubu lagi. ELAH.

1 jari dan 2 jari jadi berkubu-kubu..
selamat natal dan non selamat natal juga bisa bikin berkubu-kubu..
boneka sama ngambekan jadi buat ledek-ledekan..
sekarang 'ngomong kasar' sama 'korupsi' juga jadi 'mending-mendingan'

seneng banget diadu-aduin?
pantes dulu strategi devide et impera sukses ya.. gampang banget diadu domba.. coba kalo yang sukses strategi ora et labora.. **ini artinya apa ya?**

kenapa bisa dibandingin sih? ngga apple to apple.. kota yang dipimpin, sifatnya ga sama.. 
Ya, buat gw sih 2-2nya salah.. yang ngomong kasar ya salah, karena itu ga sepatutnya dilakukan pemimpin. Yang korupsi ya salah, ya karena itu salah (sih).. 

tapi, sebagai anak psikologi, gw pernah belajar psikologi lintas budaya. salah satu yang gw pahami, kasar atau ngga kasar itu, persepsinya bisa dipengaruhi budaya.. beberapa suku bisa ngomong 'elu-gw' di rumah, ya dianggap biasa aja.. kalo di rumah gw sih *digoreng*.. 

mungkin ada beberapa budaya yang menganggap korupsi itu ga salah atau biasa aja.. mungkin ya, gw belum nemu literaturnya.. 

pamit ke perpus dulu ya.. mau cari literatur..

bye..

January 17, 2015

Meet the Goodwillers

Another working Saturday! Excited!

So today I met these Goodwillers (Yayasan Goodwill Scholarship Recipients) .  I've never heard about this Yayasan Goodwill, i know i was so bad back then. I just knew this Yayasan because my friend asked me to deliver Presentation Skills training for this Yayasan.

The idea of meeting new people, new talented people is always exciting for me. As a good facilitator, i tried to 'learn'  about this Yayasan. (Learn means 90% googling) No, i won't tell you here about the Yayasan Goodwill, you can google it if you want.  Hahahaha.

What i want to share is about whom I met. These Goodwillers are the Yayasan Goodwill Scholarship Recipients.  They are young, smart and talented students from Universitas Indonesia and Institut Pertanian Bogor. This session was delivered fully in English, this is how the Yayasan preparing them. I was impressed that they are actively engaged to the training. Some of them were shy and bit afraid because they had to use English. But some of them were brave to speak in English, even though they knew their English aren't perfect. Mine definitely far from perfect too. But i was so impressed. They willingness to learn somehow makea me believe that they will be a successful persons. Even though some of them really have to struggle just to pay the tuition fee.

So kids, if you have this chance to go to college, go and do your best.  Seriously. I've been there, and not giving my best. Kinda regret it. Do your best in college,  because at the other side of the class, there are your friends who needs to work just to pay the tuition fee. Who have to work on their Saturday and Sunday.  Who have to work their ass off just to get what you have when you were sleeping at night.

College time could be the time you can make a remarkable history. For your parents, or simply for your self. Stop wasting your time for nothing and do something. And no, being active in organization is not nothing, it IS something. So, Seize the day!
 

October 13, 2014

Terbaik..

Tentang mencari yang terbaik..
Kadang kita sibuk mencarinya..
Hingga kadang kita lupa..
Kita belum memberi yang terbaik..

Tentang mencari yang terbaik..
Kita tidak pernah ingat, bahwa langit tak ada ujungnya..
Hingga satu saat kita tersadar, apa yang pernah kita miliki,
Bukan lagi milik kita..

Tentang memilih yang terbaik..
Atau memilih untuk menjadi lebih baik..
Bersama-sama dengan ia yang cukup baik bagi kita..

May 28, 2013

It's okay to be normal..


Is it a sin, to be normal?
normal |ˈnôrməl|
adjective
1 conforming to a standard; usual, typical, or expected : it's quite normal for puppies to bolt their food | normal working hours.(of a person) free from physical or mental disorders.
2 technical (of a line, ray, or other linear feature) intersecting a given line or surface at right angles.
3 Medicine (of a salt solution) containing the same salt concentration as the blood.
dated Chemistry (of a solution) containing one gram-equivalent of solute per liter.
4 Geology denoting a fault or faulting in which a relative downward movement occurred in the strata situated on the upper side of the fault plane.

Saya memang kuliah di jurusan psikologi. Yang, notabene, seringkali dikaitkan sama orang gila dan punya gangguan. Yang, saya males bantah panjang lebar. Sekarang, saya aja lebih banyak bersinggungan dengan yang 'ga gila' dan 'ga punya gangguan'. Kayaknya.
Not gonna write about what people think about my major, anyway.

Tapi, suatu hari, ada seorang teman pria yang cerita kalo dia lagi dideketin seorang perempuan, dan saya bingung, karena tumben-tumbenan temen pria saya ini ngerasa bingung ketika didekati perempuan. *bingung juga ga?* *sukurin*

Intinya, dia akhirnya bilang alasannya dia ngga 'sreg' sama perempuan ini:
"She tries too hard to be freak, and weird."

Ho. I got this. Yes. I often see some people tries too hard to be, freak, weird, different, unique, andwhatsoever. And sometimes, I just want to say,
"Ladies, It's okay to be normal."

We do study about abnormalities. The abnormal ones. But we don't have to be in it. Like, seriously. Unless you're Radiohead, stop calling yourself a weirdo. Let people do, if you really are. Some people are being weird because they're being themselves. And that's fine as well. They not trying to be weird. Then, they're being unique. We're all unique in some ways.  It just, do you really have to try that hard to be weird? Be careful, you might be end up being fake, rather than unique.

If you can't be extraordinary in a good way. You don't have to be extraordinary in a bad way. 



April 12, 2012

Cerita "Istri Simpanan": lantas, bagaimana?

Teng-tereng.. jadi tiba-tiba seharian ini saya melihat ada pembahasan seru di Twitter. Intinya tentang cerita yang ada di buku pelajaran anak kelas 1 dan 2 SD. Ada yang tentang istri simpanan dan cerita yang cenderung seram mengandung kekerasan.

Tapi kemudian, fokus saya pindah ke beberapa tweet yang nampaknya memang gerah dengan materi-materi ini. Yang disayangkan, ada akun-akun yang begitu cepat membuat satu judgement dari media twitter yang 140 karakter berdasarkan satu buah twit.. This is, somehow, menyeramkan. Ya, menyeramkan betapa kita memang punya bawaan untuk gampang menilai, menjudge sesuatu tanpa mencari tahu atau mempelajarinya terlebih dahulu. Maka dari itu, sekali lagi, mari kita pintar-pintar dan bijak dalam menggunakan sosial media dan mengelola informasi yang sekarang ini berputar dengan sangat cepat. Karena kalau kita tidak bijak, kita bisa cepat membuat penilaian. Penilaian yang buruk, kadang membuat kita benci dan buta hingga tidak mau mengenal. Akibatnya, pemahaman kita malah semakin sempit dan sulit untuk menerima wawasan baru.

Mbak Nina, dalam hal ini mencoba untuk mencari hikmah dengan apa yang sudah terjadi. Bagaimana menanggulangi 'kelalaian pemerintah' yang fatal ini. Kita bisa mengajak anak berdiskusi, tentang isi cerita tersebut. Apakah cerita itu baik atau buruk (Anda tau jawabannya) atau apakah kita boleh melakukannya atau tidak (Anda juga tahu jawabannya). Saya sangat paham kenapa Mbak Nina fokusnya ke arah sini. Karena ini adalah sesuatu yang berada di jangkauan kita, yang bisa kita segera lakukan. Sebagai anggota keluarga atau Ibu dari anak-anak ini. Tentu saja cerita ini perlu penanganan dari pemerintah, tapi, seberapa jauh kita bisa menjangkau hal itu? Butuh berapa lama? Lalu, kalau sudah terpapar bagaimana? Sebagai seorang Ibu dan juga Psikolog, Mbak Nina tentu mencari solusi yang paling mungkin dilakukan sesegera mungkin. Sambil menerapkan itu di rumah, mungkin kita bisa saling bahu membahu mengatasi ini. Termasuk mungkin meminta sekolah untuk memilih dengan cerdas buku apa yang akan dipakai di sekolah.

Hihi, tiba-tiba saya merasa ingin menulis ini, untuk sekedar mengingatkan (diri saya sendiri). Semua harus dimulai dari rumah, termasuk pendidikan. Diskusi dengan orang tua merupakan satu hal yang bisa menjadi sarana belajar anak. Yang lebih penting, sarana BERKOMUNIKASI dengan anak. Sekolah memang institusi pendidikan formal, namun, bukan berarti kita bisa lepas tangan untuk masalah (konten) pendidikan. Semoga tulisan ini tidak menyinggung siapapun. Jika ada, saya mohon maaf.


Roro Puteri,
Doakan lancar perjalanannya menjadi psikolog pendidikan tahun depan. :)


 

November 15, 2011

Tema SUKSESI: TOPENG (?)

Jadi ya, sore ini pembukaan Suksesi di Psikologi UI. Jargonnya sih "Cerdas", tapi entah kenapa mereka mengangkat tema TOPENG. Ya, gw sih gak tau persis latar belakang dan tujuannya, tapi tadi di sambutannya, sang PO sempet bilang, "jadi misalnya kandidat maju dan memilih Topeng warna Merah, kita semua tau kalo Merah itu berani.." Man, itu topeng sih. Gw gak mau memilih seseorang yang jelas-jelas menggunakan topeng. Yee, siapa elo juga sih, R, emang masih punya hak milih?


Anyway, cuma sedih aja sih dengan pemilihan temanya.
Tapi, untungah salah satu dari dua kandidat ketua BEM agak pintar. Jadi, instead of memilih salah satu warna sebagai warna topengnya, Ia memilih topeng yang gambarnya muka dia sendiri. Well, at least dia masih pinter lah ya.. 


Semoga ini cuma kesalahan memilihi tema karena ngga kritis dan tidak ada yang mengkritisi ya. Gw yakin banyak yang cinta sama Fakultas Psikologi UI dan mau berpikir sedikiiiit aja lebih keras untuk kemajuan Fakultas tercinta ini.


-Staff PSDM Senat Mahasiswa F. Psikologi 'I Will Fly'
-Bendahara BEM F. Psikologi 'INOVA'

November 11, 2011

Menjadi Atlet

Hmm, melihat atlet-atlet legendaris berlari membawa bendera SEA Games gw terharu. Seriously, gw memang terlihat galak dan jutek di luar, tapi deep inside, hati gw sensitif dan rapuh. Eh.
Ahyhei, ke-terharu-an gw seketika berubah menjadi nyesek-nyesek sedih. Pernah baca tentang mantan-mantan atlet yang hidupnya menyedihkan? -semoga kata-kata itu tidak merendahkan-
Here's some news I've read:


Dan ternyata, temen gw ngetweet hal yang sama. 







DULU,  dunia olahraga kita memang sangat berprestasi, mungkin karena atlet-atletnya benar-benar fokus untuk mengejar prestasi. Tapi, salah satu tweet dari @LaChinois menyadarkan bahwa setelah mereka 'selesai' menjadi atlet, mereka jadi susah dapet kerja karena ketika mereka menjadi atlet pendidikan mereka terbengkalai. 


Atlet-atlet juga manusia biasa, mereka pasti ingin punya masa depan yang 'aman', bukan hanya untuk mereka, terutama untuk yang pria, tentu untuk keluarga mereka. Jadi, kalau sekarang atlet-atlet juga sibuk dengan bisnis, atau mendahulukan sekolah mereka, patutkah kita cap mereka egois dan tidak patriotis? Sementara, negara belum terlihat peduli atau benar-benar menjamin hari tua atlet-atlet ini. Jadi, atlet-atlet sekarang memang harus pintar, toh. Bukan pintar dalam olahraga yang digelutinya, tapi pintar memanage tabungan mereka, memanage waktu, dan menata masa depan mereka *yakali, itu mah semua orang deh*.

Sebenarnya, semua bisa terbantu kalau sekolah-sekaloah atlet itu mau disiplin. Misalnya, hanya atlet-atlet dengan nilai minimal 7 yang boleh bertanding. Tapi ya, itu pasti menjadi sentimen negatif untuk mereka yang melihat ini sebagai 'penghalang' buat atlet-atlet yang secara akademis memang 'kurang memadai'. Hmm, kalo gw sih sebenarnya melihat itu sebagai tantangan. Makanya akhirnya tulisan ini fontnya kecil banget dan warnanya abu-abu. nanti gw dinilai diskriminatif, padahal niat gw kan mau memacu mereka. *disetrum*

Tapi, ya begitulah. Semoga keterharuan gw setiap kali melihat seseorang yang berjuang mengejar prestasi membawa nama Indonesia, ngga akan berubah menjadi kesedihan dan nyeri karena akhirnya mereka harus berjuang bahkan untuk sekedar makan dan tidur dengan nyaman di hari tua mereka.

Semoga atlet-atlet yang berjuang dalam SEA Games 2011 ini. Selamat berjuang, patriot-patriot bangsa. :) 

November 04, 2011

Setengah Semester menjadi anak S2

Hello world,
jadi ya.. Minggu UTS sudah saya lalui-setelah sebelumnya berkenala di Surabaya-  Sebenarnya saya mau menulis apa yang terjadi di ujian terakhir UTS kemarin, tapi ternyata sudah ditulis oleh sicune di sini. Ya, since we were in the same class, i won't write about it again.
I was annoyed, as well. Kalo Cune bilang "esdua apa esema", saat itu Saya cuma bisa ngomong dalam hati,
"Duile, masih jaman Cyyyiinn.."
Yah, Saya emang punya potensi dimusuhin sih kalo masalah disiplin, dan konservatif, karena Saya mungkin berada di ekstrem kanan. Man, rules are made to keep the things work well. *sigh, yes, Saya emang kuno*

Well, actually, ada hal yang 'beda' yang Saya rasakan selama setengah semester ini menjadi mahasiswa S2. Mengapa ujian dan/atau presentasi masih menjadi hal yang 'ditakuti' sih? Kalau kita mendewakan nilai, maka perilaku kita towards beberapa ujian juga akan 'berbeda' ya? Yah, Say that I am cursed, tapi Saya tidak begitu mementingkan nilai. Jeleknya? Saya akan menghadapi ujian sebagai bahan introspeksi, which is too late. Kalo Saya merasa ngga paham, ya Saya belajar lebih keras lagi, tapi ya, tetap semampunya. Kenapa belajar lagi? Since, kita gak bisa munafik juga kalau IP masih menjadi pertimbangan di luar sana. Tapi, Saya tidak begitu suka saat seseorang mendewakan IP dan akhirnya menghalalkan segala cara-khususnya saat ujian- agar nilainya baik.
Man, be honest, WITH YOURSELF! 
I don't know, but, will you still be that proud if you get a good grade but it's not really yours?

Hmm, tiap orang memang memiliki nilai yang beda-beda sih, who am I to be this preachy, huh?!
Anyhei, Saya bersyukur punya Power Rangers. Entah perasaan Saya saja, atau memang team ini memang punya keinginan 'menggali' dan 'mempelajari' dalam mengerjakan tugas, dan bukan semata 'mencari nilai'.  Saya merasa kami tidak cepat puas, tapi yang paling menyenangkan, saat kami semua merasa mentok, we'll throw to the floor. Mengharap feedback dan bantuan dari presentasi. Presentasi masih menjadi momok, tampaknya. Bahkan saat Saya menjadi mahasiswa S2. Presentasi memiliki banyak tujuan, dan kalau kita memandang presentasi ini sebagai bahan untuk menggali feedback sebelum ujian sebenarnya, seharusnya kita tidak perlu takut, lho. Makanya kami banci banget kalo waktunya presentasi. Daripada nanti 'dibantai' di presentasi sebenarnya. Lalalala.

Ih, apa sih nih, ngga jelas beut.  Intinya, menjadi mahasiswa S2, Saya ingin memperdalam ilmu dan mencoba mengaplikasikan apa yang Saya pelajari, bukan sekedar memanjangkan nama yang tidak mungkin ditulis di kartu identitas juga.

*ini tulisan jelek banget ya, konten gak jelas, kaitan satu sama lainnya juga......*

October 26, 2011

Have a fab race on heaven, Sic

I've pushed my self that hard not to feel this. But I've failed.

Percaya atau ngga, gw berusaha that hard lho untuk gak sedih atas meninggalnya Simoncelli. Tapi gagal. Gw merasa having overrated feeling when Jobs passed away, sama seperti sekarang. Since, people would say 'siapa lo? kenal? Akrab?'

Gw suka moto gp dari kecil. Dulu kelas-kelas balapannya masih dinamai berdasarkan CC kendaraannya- 125 cc, 250 cc, dan 500 cc. Gw sedih banget ngeliat Doohan kariernya berakhir karena kecelakaan parah yang membuat kakinya cedera parah. Kemudian terharu melihat juara dunia ini 'mementori' Rossi. Datang dan memberi semangat sebelum race. Hdirdan memberi selamat setelah race.
Yang gw inget gw following (baca: mengamati) Rossi's carrier from 1996 untill 1999 with Aprilia, sampai akhirnya dia naik ke kelas 500 cc (moto gp) bersama honda, yamaha dan ducati. Gw mengikuti bagaimana ia selalu mencipta trend. Bagaimana ia akan jongkok dengan baju balap di samping motornya, memegang footstep, lalu 'menjalin komunikasi' dengan khusyuknya bersama motornya sebelum warm-up lap.
I do grow up with this Moto-GP thingy. *Oh, i never like Biaggi or Barros. And I love Pedrosa, this lil cute dwarf..*
I watched the race on TV, i saw the red flag. I was afraid to see the re-run kw whatsoever that show the chronological scenes of the accidents. Bodohnya, *curiousity kills the cat* gw malah mencari tahu kenapa helmnya bisa lepas. Dan mempelajari kemungkinan-kemungkinannya.
*curiousity kills the cat* gw malah mendapatkan gambar-gambar Rossi yang menangis, shocked, terhenyak setelah kecelakaan itu. Man, i could feel that my heart is broken. Tell me that I'm exxagerated, indeed. *read the news*


Wondering how it feels like, teman satu negara, sering disebut sebagai titisannya, partner berlatih motor cross.. They're so close.. Then Rossi saw the accident, or i should say involved, things that I don't want to say actually.
No. Gw tidak menyalahkan Rossi nor Edwards. It was an accident. Tapi, kenapa gw sesedih ini ya? Apa karena he's that young and talented. Yes, he was reckless and hazardous rider. But, he gave the dynamic and color in the race, like Rossi do. Atau gw sesedih ini karena melihat Rossi yang sangat terpukul?
Yes, just visit Rossi's official site, and you'll know what I mean.

My deepest condolences for Sic's family.
Some people say, die when you're young is such a bless.
Sic has passed away. In that young age. On the race. One of his favorite thing. I hope it could be another bless for him. :)

So long, Sic58. You'll be missed.


October 07, 2011

NEUROSCIENCE dan keimanan

*sedang mengerjakan tugas Neuropsychology* 
Tiba-tiba gw teringat sama kuliah neuro yang Selasa lalu *jarang2 nih gw inget tentang kuliah*. Ya walau waktu S1 mata kuliah faal gw lebih banyak membahas sperma anjing, ular, serta cacing dengan bentuk bulat, bulan sabit atau celurit, gw sangat tertarik dengan neuroscience *tertarik itu artinya excited kalo mendengar dosen menerangkan yaaa, bukan berarti gw jago yaaa..*. Nah, Selasa lalu pembahasannya adalah tentang neuron. Ini kira-kira tampang dari neuron itu:

 *gambar diambil dari wikipedia* 

Rumit ya cyynn. But then, mata kuliah ini membahas tentang bagaimana neuron ini berkomunikasi, baik intra-neuron maupun antar-neuronnya. SUBHANALLAH! Super ribet man. Gini, bayangkan kalau kita goyangin jempol kita as if kita lagi joget dangdut. *kebayang gak?* Gerakan itu terjadi karena si otak mengirimkan sinyal untuk otot kita menggerakan si jempol. NAH. Sinyal yang disampaikan ini, bukan sinyal seperti tebak gaya *jangan bayangkan ada jempol-jempol kecil dalam syaraf lo yang diteruskan* Sinyal 'perintah' ini, saat dikomunikasikan di dalam neuron dihantarkan dalam bentuk sinyal listrik. Nah, kalo dari ujung dendrit udah sampai ke akson, sinyal ini disampaikan ke neuron berikutnya melalui proses neurotransmitter. Intinya, ada peranan kimiawi dan listrik yang terjadi. 


Lah terus, gimana caranya si sinyal tersebut bisa membuat jempol goyang-goyang? Nah ini sih gw dikasih tau sama aryo yang lulusan neuroscience: sinyal itu dikirim dalam dalam bentuk 'binary'. Kalo susah bayangin, bayangkan aja kaya kode morse yang kemudian kalo dikumpulkan secara lengkap jadi sebuah perintah untuk goyang-goyang jempol. MAN, bayangkan, sinyal tersebut dihantarkan pada bagian yang keciiiiiiiiiiiiiil banget di badan kita. dan sinyal itu bisa menyebabkan otot-otot kita bergerak. Thus I said:  


BELAJAR NEUROSCIENCE ITU MENINGKATKAN KEIMANAN


Allah menciptakan bagian yang kecil banget di tubuh kita. Dan bagian tersebut memiliki fungsi yang sangat besar. How great He is.  


*kalau mau penjelasan yang lebih tepat, cari sumber yang lebih terpercaya ya* 
Hmm, ngerjain tugas Neuro dulu ya. Suka mata kuliahnya ternyata ngga membuat gw mahir ngecap di tugas ini. :p

October 05, 2011

Time Management


TIME MANAGEMENT itu salah satu kunci sukses.
Gw ngga ngerti sih, kepribadian gw yang mana yang membuat gw sangat menghargai waktu, terutama waktu orang lain. Gw tidak suka menunggu, makanya gw juga ngga suka ditunggu. Biasanya gw akan memperhitungkan untuk bisa sampai ke suatu tempat minimal 30 menit sebelum waktunya. Dan, tau kalo gw bakal datang telat, gw pasti akan bilang dulu sama orang-orang yang berkaitan.   
Pengaturan waktu menjadi hal yang penting buat gw. Gw pasang alarm 2 jam dari waktu gw harus siap. Misalnya: gw harus siap berangkat jam 7, maka alarm gw akan bunyi jam 5. Alasannya, selain sholat, gw itu pemalas bung. Kalo alarm baru bunyi sekali, gw akan tidur lagi sampai gw merasa ikhlas untuk bangun dari tempat tidur. Minimal 1 jam sebelum berangkat.
Nah, gw juga ngga suka buru-buru. Ada dua alasan, pertama PERASAAN saat kita in hurry itu ngga enak banget. apalagi gw orang yang suka merasa bersalah. Beuh! Suka pengen nangis saking kesel sama diri sendiri. Alasan kedua, kalo gw buru-buru, mostly, gw akan melakukan kesalahan, seperti meninggalkan barang yang penting, menumpahkan sesuatu, merusak sesuatu, atau, meninggalkan typo bertebaran di tugas gw. MEH. Makanya, gw suka kesel banget kalo ada orang lelet. *maaf ya orang-orang lelet yang suka gw marahin*
Karena gw sadar, gw itu pemalas, maka, gw harus mengatur waktu sedemikian rupa, supaya gw tetap menikmati hidup gw. Kalo gw mau lelet-lelet, ya gw pasang alarm 30-60 menit lebih awal (lagi). Jadi, gw tetep bisa menikmati masa 'tidur lagi' di pagi hari. Punya waktu untuk 'santai-santai' sebelum mandi. Dan masih bisa menikmati spongebob di pagi hari tanpa perlu buru-buru.
Nah, kenapa gw nulis ini? Karena gw abis marahin temen gw yang suka lelet. Abisnya, orang udah buru-buru, dia tetep sambil lelet-lelet beresin tasnya. Belom lagi, orang udah buru-buru karena telat, dia masih lelet-lelet ngelapin sepatu, atau sekedar ngerapihin barang-barang di kamarnya. Huhu... kenapa dari tadi dia santai-santai internetan. Kenapa pas udah telat dan berangkat dia baru beres-beres.
Waktu itu ngga akan terulang, teman. 
Jangan mau ditinggal.




October 02, 2011

Passion, Where Are You?

Hallo, Saya kembali!
Hehe, biasalah si pemalas yang easily distracted ini lagi banyak tugas dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda a.k.a di-prokrastinasi-kan. But I always love this pace. Yes, sometimes, doing nothing would kill me, my brain actually. *random*

Well, minggu lalu mengisi training TRANSFORMERS 2011 bersama Dynamite Training. Temanya "Be Bold and Be Prepared" dan pesanan dari panitia, isinya tentang PASSION. Oh My God, Apa itu Passion? Buah? Passion Fruit? *jayus* *digiling massa* Anyhei, Let me ask you, apakah passion itu? buat anak-anak yang kuliah di Psikologi, apa kita pernah specifically learning about the thing called 'Passion'?? Ya, gw anak bandel sih, kayaknya pas diterangin gw lagi nyoret2 file temen gw, or lagi merancang kejahatan politik. Atau memang tidak pernah diajarkan ya selama kuliah?

But, diajarkan/tidak bukan menjadi suatu alasan buat gw untuk tidak membuat materi yang menarik. *yea rite, di project ini gw menjadi penanggung jawab modul* Yeay! Dan akhirnya, berangkat dari tanya-tanya ke panitia serta orang-orang di sekeliling gw, gw mulai membuat modul tentang passion *masih tetap dalam keadaan pusing, bingung dan ga sreg*. Merasa cukup dengan 'kenyataan', gw mencoba untuk mencari sumber-sumber yang lebih ilmiah. Yes, hampir seminggu gw membaca referensi dari internet, dan gw tambah bingung. Bahkan, untuk sekedar mencari definisi yang 'pas' untuk peserta.

Tapi akhirnya gw mikir, Man, kenapa juga training ini mesti mikirin definisi sih? Inikan bukan training untuk ujian akhir semester. PEEP! Walaupun, pada hari pertama, pertanyaan terbesar peserta adalah tentang 'apa itu passion?' Jawaban gw sih, 'coba jawab, apa itu cinta?' Gw ngga mengecilkan 'arti' dari kata passion, tapi passion itu dirasakan. Sama kaya cinta. Sometimes, you just can't tell it, but once you got it, you feel it! *alasan*

Akhirnya, ada 2 pokok penting yang kami sepakati untuk sampaikan di Training, dan masing-masing point kami sampaikan di 2 hari yang berbeda. Hari pertama tentang Passion serta bagaimana mencapai passion kita. Ibarat kata nih, Hari pertama ini, kami memberi madu. Kami kasih yang indah-indah, bagaimana 'hebat'nya passion dalam menggerakan kita. Banyak muka-muka bahagia di akhir hari. Seakan-akan mereka mendapatkan penerangan tentang apa passion mereka. How to find your PASSION? jawabannya adalah berani mencoba, jangan takut salah, dan terus ambil resiko! gw sendiri, lebih setuju dengan kata 'menemukan', karena Passion ada di dalam diri kita. Dan kalo kita ngga mau mencoba, gimana kita tau if IT suits us or not. Kalo itu passion kita atau bukan. Nah, kalo hari pertama itu madunya Passion, hari kedua gw kasih mereka Pahitnya kenyataan.

Gw ngga bilang kalo lo ngga perlu kerja sesuai passion lo ya. But sometimes, kenyataan itu ngga indah bung. Partner gw, Otto, 'menggampar' peserta pelatihan dengan beberapa slide bergambar 'keluarga', 'komunitas', dan foto 'pernikahan' -dibagian ini, peserta-peserta cowo langsung bersandar lemas di kursinya-. Yes man, kenyataannya, ngga semudah itu kita mendapatkan pekerjaan sesuai passion. Banyak tantangan yang ada di jalan kita. Biar gimana pun, kita ngga hidup sendiri, lho. Ada orang tua, keluarga atau mungkin teman yang CARE dan PEDULI dengan kita. There, I repeat, CARE dan PEDULI.  Bukan sekedar ikut campur ya. Dan faktanya, kita juga ingin membahagiakan mereka, memenuhi harapan mereka, bukan? Saya punya banyak teman yang passionnya di musik atau fotografi, tapi, mereka memilih untuk tidak hidup dari passion mereka ini. For me, Passion is something you would do, FOR FREE. If there's money come with it, It's an extra bonus! Lagian, ngga semua orang segitu mudahnya mendapatkan pekerjaan, apalagi mendapatkan pekerjaan sesuai passion mereka.

Jangan putus asa. Kuncinya bukan semata bekerja sesuai dengan passion kita, tapi bagaimana kita  'menemukan', 'menumbuhkan', 'membawa', dan 'menghidupkan' Passion kita dalam pekerjaan yang kita jalani. Bicara tentang hal ini, kayaknya gw bisa bikin buku. Since, Took almost a week to really 'get into' the subject. agak gak enak ya membuat materi pelatihan yang materinya kita ngga suka atau ngga sreg. Thus I did a lot of reasearch and reading, biar lebih dapet mood dan feelnya. Alhamdulillah, team gw hebat. I BOOM YOU, DynaSIX!

Well, if you wanna talking more about passion, you can email me or contact me ya..
Tulisan ini terlalu random karena ada 2 tugas filsafat ilmu, 1 tugas kuantitatif, 1 topik kualitatif, 1 tugas neuro yang lagi menari-nari di otak. I love you readers.





 

July 15, 2011

Commuter Line?

Siang ini di SCTV ada berita tentang kereta commuter line. Yang Saya baca dari tweet teman2 saya yang anak kereta -duile- sih, banyak keluhannya. Hmm, saya sendiri sempat menjadi anak kereta selama 1 tahun kemarin. Setelah resign, hubungan Saya sama kereta juga hampir putus. -duile, lagi-

Anyway, selama setahun kemarin, kereta menjadi moda yang cukup Saya andalkan. Saya menjadi anak kereta. Benci-benci cinta kalau dia lagi terlambat atau ada gangguan. Tapi, waktu tempuhnya menjadi yang paling nyaman dan sehat mental buat Saya yang berkantor di Slipi dan pulang ke Cijantung (naik kereta dari Stasiun Tanah Abang sampai Stasiun UI).

Bukannya Saya sombong, (walau emang sombong), tapi, Saya biasanya lebih memilih kereta ekspress. Ya, bedanya memang cukup banyak, 3500 rupiah. Coba dikali 20 hari kerja, Lumayan kan? Saya punya beberapa alasan mengapa Saya memilih kereta ekspress. Pertama, waktu tempuhnya yang lebih cepat. Ya, walau kereta ekonomi AC seringkali datang lebih dulu, tapi, ekspress seringkali waktu tempuhnya lebih cepat. Ngga kelamaan dijalan, ceuk mama teh. Kedua, lebih nyaman. Kereta ekspress biasanya hanya berhenti di Stasiun Sudirman. Artinya, hanya ada satu kali penambahan penumpang. Ngga terus menerus disesaki. Dipaksakan, padahal sudah tidak cocok lagi, eh tidak cukup lagi. *selain itu, di Sudirman yang naik kadang2 mas-mas ganteng yang pulang kantor. Wangi.* *teeeeeet*

Yak, yang ketiga, lebih aman. Seriously. Ketika kuliah, Saya sering naik kereta ekonomi maupun ekonomi AC. Hmm, berhenti di setiap stasiun berarti kesempatan si copet untuk kabur sesaat setelah nyopet itu lebih banyak. Waktu untuk nyopetnya pun lebih banyak. Setara dengan jumlah stasiun yang akan dihampiri si kereta. Ekonomi AC ada copet? Karena berhenti di setiap stasiun, mereka gak perlu beli karcis. Setelah naik, nyopet, turun aja di stasiun terdekat. Biasanya mereka lebih hapal tentang waktu pengecekkan karcis, kan?

Hmm, berhubung kita harus selalu mendukung usaha perbaikkan yang dilakukan, semoga faktor-faktor kenyamanan di atas diperhatikan oleh pengelola Commuter-Line yang tampak seperti baju baru buat Ekonomi AC. Selain itu, kita juga harus paham, kenapa kereta sering mengalami gangguan? Ongkos kereta yang kita bayar selama itu disubsidi. Dan jumlah subsidi yang SEHARUSNYA dibayarkan pemerintah itu cukup banyak. Sayangnya, saya perrnah membaca kalau utang subsidi ini belum dibayarkan oleh pemerintah ke pengelola. Jadi, kalo tarif/ongkos tiket harus terus dipotong, tapi subsidinya ngga dibayar, tambah lagi banyak yang tidak beli tiket, gimana pengelola mau melakukan perawatan?

Ya, kira-kira, itu yang ada di pikiran Saya tentang Commuter Line, eh, perkeretaan. Since, belum pernah naik Commuter Line. Semoga kita bisa saling mendukung dan menjaga fasilitas bersama. Seperti yang ditanamkan sejak SD di pelajaran PPKn dulu. Hmm, termasuk tidak membuang sampah permen, aqua gelas, atau bungkus snack lainnya di dalam gerbong. Ingat, kebersihan sebagian dari iman.



July 12, 2011

Untuk Pengendara Motor yang Baik..

Selain mabuk, hal lain yang berbahaya bagi pengendara (motor) adalah pengendara motor lain yang baru bisa naik motor.

Seriously. Perilaku mereka bisa disetarakan dengan (sebagian besar) pengendara bajaj. Men, hanya mereka dan tuhan yang tahu, kapan mereka mau berhenti, atau belok.

Dear You stupid riders,
Bisa ngegas dan menjaga keseimbangan motor ngga membuat Anda layak menjadi seorang pengendara motor.
Jangan karena motor matic hanya perlu gas dan rem, Anda lantas merasa pantas berkendara di jalan raya. Oh men, percayalah, test mendapat SIM motor gak semudah itu.

Berkendara dengan selamat bukan hanya tentang Anda bisa selamat selama berkendara. Kalo ada orang yang gak selamat karena Anda, itu fatal.
Kalo Anda selamat selama berkendara di jalan, belum tentu karena Anda jago, mungkin karena orang lain yang mengalah, atau mungkin pasrah menghadapi kebodohan Anda.

Anda bukan pembalap MotoGP. Motor Anda dilengkapi kaca spion. Dua buah. Kalo posisi spion Anda sudah berdoa, menengadah ke atas, bagaimana Anda bisa melihat kendaraan lain di belakang Anda.
Motor Anda juga punya lampu sen. Bukan hanya sebelum belok, sebelum Anda pindah lajur, berikanlah tanda untuk kendaraan di sekeliling Anda. Sebelum pindah/belok, jangan lupa, sekali lagi, LIHAT SPION, mbak.

Seriously, berkembangnya motor matic berkorelasi positif dengan kekacauan di jalan (gw rasa). Jalan di lajur kanan, tapi kecepatan setara dengan kendaraan di sebelah kirinya, atau malah di sebelah kirinya kosong itu bikin orang pengen nyusul sambil nendang kendaraan Anda.
Dan buat mereka yang suka mengendarai motor pakai 1 tangan, kalo gw nyusul trus ngerem mendadak di depan lo, gw cuma mau tes kesigapan lo. Kalo mau santai, jalan di kampung aja Mas, jangan di jalan raya.

Tapi, ini serius. Ini kenapa tulisan ini dibuat dalam Bahasa Indonesia. Biar pengendara-pengendara motor yang kapasitas otaknya kurang, bisa paham tulisan ini.
Bahwa berkendara dengan selamat itu bukan berarti ANDA saja yang SELAMAT, tapi pengguna jalan yang lain juga TIDAK CELAKA dan TIDAK TERGANGGU KENYAMANANNYA karena ANDA.

BIJAK, JAGA KESELAMATAN ANDA DAN ORANG SEKITAR ANDA.

June 22, 2011

Jika Aku Menjadi dan "kemana sih anak-anaknya??"

Weekend lalu gw sempet nonton 'Jika Aku Menjadi' yang tayang di Trans TV. Ya. Intinya adalah memberikan 'kesempatan' untuk orang-orang muda yang lebih beruntung untuk hidup seperti orang-orang yang 'lebih hebat'.
Perempuan hebat yang kisahnya diangkat minggu lalu adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Ia sampai terpaksa makan semacam umbi-umbian karena tidak punya uang untuk makan nasi. Untuk menahan rasa sakit tangannya yang patah, beliau bahkan meminum obat untuk unggas.
Gw nangis aja deh. Kaya digamparin pake ipad deh rasanya.
Tapi ada satu scene dimana peserta bilang bahwa sang nenek sebenarnya merasa kesepian, tapi ia tidak mau mempermasalahkan anak-anaknya yang tidak mengunjunginya.
Yes. Setiap kali gw nonton acara semacam ini, dimana ada orang tua yang tinggal sendiri, di rumah yang tidak lagi layak, gw akan bertanya: kemana sih anak-cucunya?? Tapi, itu dulu.
Dulu? Ya. Gw mengalaminya. Almarhumah nenek gw dulu tinggal sendiri di desa gw. Kami, terutama nyokap gw, bukannya gak mau mengurus beliau. Tapi, seriously, kami seringkali meminta beliau tinggal bersama kami, atau salah satu anaknya, di Jakarta. Tapi, beliau bersikeras tidak ingin meninggalkan rumah tuanya di desa. Alasannya: tidak ada yang mengurus rumah dan kebun. Banyak kenangan yang ada di rumah tersebut. Padahal, kami punya penjaga rumah dan kebun.
Kita harus paham, setiap sudut rumah yang sudah lama kalian tinggali pasti punya kenangan yang akan sulit dilepaskan kan? Tampaknya itu juga yang menjadi alasan orang-orang tua di reality show dan kehidupan nyata sulit untuk meninggalkan 'rumah tua' mereka. Sulit untuk memasukkan kenangan baru dalam memory mereka, dan, sulit untuk kita memaksa mereka untuk melepas kenangan yang telah tertanam. Dan gw, gw sedih banget kalo harus memaksa beliau cuma bisa mengingat rumah itu dalam kenangannya karena harus jauh dari rumah itu. Gw aja kalo lagi BT banget selalu kabur ke rumah itu. Gw akan merasa tenang dan tentram.
Nyokap gw hanya akan memaksa, as in marah, nenek gw untuk ke Jakarta apabila beliau sakit. Kalau beliau sudah sembuh, maka beliau akan memaksa, as in ngambek, untuk cepat kembali ke desa.
Sulit untuk kami mencari 'pendamping' yang sesuai dengan beliau. Beliau masih didikkan Belanda yang tegas, teratur, dan penuh norma. Maka, sulit untuk mencari yang bisa 'patuh' dan bertahan dengan beliau. Untunglah yag terakhir ini tidak ada masalah.
Ya, sekarang gw udah ngga lagi 'sewot' "anak-anaknya kemana sih??" kalo nonton acara semacam ini. Karena, mungkin keturunan nenek gw mungkin masih mampu untuk sering menjenguk beliau. Masih cukup untuk membayar 'pendamping' untuk beliau. Sedangkan yang di tivi? Mungkin keturunan nenek/kakek tersebut memang tidak mampu untuk sering-sering berkunjung, atau membawakan makanan, apalagi harus mencari 'pendamping' bagi orang tua mereka. Dan, seperti nenek gw, mungkin mereka juga gak bisa memaksa orang tua mereka untuk ikut tinggal bersama mereka.
Jadi, gw sudah berhenti untuk nyinyir 'kemana sih anak-anaknya?'

Dan gw, sangat kangen nenek gw. Bobok yang tenang ya Mbah.. :')


April 13, 2011

Gedung DPR, milik Marzuki Alie

Ya, sesuai dengan tren pemuda masa kini, maka Saya akan ikut menulis tentang pembangunan gedung DPR ini (news). Yak, seperti link yang Saya beri, hal ini memang telah terjadi sejak akhir tahun lalu. Ada dan tiada. Berhembus dan berlalu.
Tapi ya teman-teman, pembangunan yang konon bisa menghabiskan total biaya 1,2 Triliun ini menjadi sangat memancing emosi rakyat. Bukan hanya rencananya saja, tapi juga karena komentar yang terhormat ketua lembaga perwakilan rakyat yang konon disebut DPR, Marzuki Ali.
Perlu atau tidak. Tanya saya, maka saya jawab, Perlu. Iya, keperluan/kebutuhan orang kan beda-beda. Bisa aja membangun gedung baru itu memang sebuah kebutuhan. Biar kinerja lebih baik, Biar lebih nyaman, atau kursinya dikasih borgol biar gak bisa kabur2, atau gerbangnya pake kawat listrik biar gak bisa didatengin. Atau mungkin ruangannya diperluas biar bisa menginap dan bekerja memikirkan rakyat dan negara semalam suntuk. Tidak perlu saya perdebatkan. Yang menjadi masalah adalah urgensinya. Apakah memang HARUS SAAT INI gedung tersebut dibangun? Dengan keadaan rakyat yang, katakanlah, belum sejahtera.
Okay, Saya termasuk seseorang yang mendukung pembangunan monorail, subway, atau MRT. Ya. Sebagian orang merasa ini pemborosan, mubazir dll. Tapi menurut Saya, kalau kita pembangunan ini harus segera dilakukan karena keadaan jalanan Jakarta yang sudah tidak sehat. Kemacetannya sudah bisa mengurangi tingkat kebahagiaan penduduknya.
Hubungannya dengan Gedung DPR? Iya, Apakah sudah sebegitu mendesaknya untuk dibangun gedung baru?
"Ah, paling pas pembangunan gedung DPR dulu juga menjadi polemik. Trus sekarang udah diterima aja."

Hmm, mungkin tidak. Saat pembangunan gedung DPR tahun 1965, harga diri bangsa sebagai bangsa yang merdeka sedang berkibar, nasionalisme sedang membara. Ditambah akan diselenggarakannya CONEFO(Conference of the New Emerging Forces), maka pembangunan gedung ini dapat mengangkat 'harga diri' dan pencitraan bangsa. Maka, MUNGKIN pembangunan gedung ini tidak menjadi sebuah polemik yang besar. (Walau pembangunannya memakan waktu yang sangat panjang, 18 tahun).
SEKARANG? Apa ya kita sedang membutuhkan 'harga diri' dengan membangun gedung. Apakah 'pendidikan' dan 'kesejahteraan' sudah terpenuhi? Coba ya Teman-teman, Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Tante-Tante lihat, apakah kualitas pendidikan kita sudah merata di seluruh daerah? Di Jakarta saja, apakah pendidikan sudah ramah terhadap teman-teman yang 'perlu berjuang lebih keras' hanya untuk hidup? Lalu, silakan di tengok Puskesmas, Rumah Sakit pemerintah dan sarana kesehatan lainnya. Apakah sudah tidak ada lagi pertanyaan "Siapa penjaminnya?" saat melangkahkan kaki? Apakah sudah tidak ada lagi orang-orang yang dirawat di koridor karena keterbatasan kapasitas?
Ya, udah sih lah ya. Kita kan rakyat biasa. Kalo kata Marzuki Alie, ini tuh cuma bisa dipahami elite. God Bless You, sir.


April 09, 2011

Wakil Rakyat, Seharusnya Merakyat..

Howkay, jangan terlalu serius ya pemirsa.
Tapi, kemarin semua orang tampak gempar dengan foto Bapak Arifinto, salah satu anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera, yang sedang menyaksikan film porno pada saat sidang paripurna.
Well, sebenarnya, pada sisi beliau menonton video saat sidang saja hal yang kurang berkenan di telinga. Beliau adalah wakil rakyat yang dipilih dan digaji dengan uang rakyat untuk mewakili rakyat(pemilih)nya. Dengan demikian, yang harus dilakukan oleh seorang wakil rakyat waktu sidang paripurna adalah mengikuti sidang tersebut, bukan menonton video. Apalagi yang porno.
Hal ini , menurut saya menjadi besar karena beliau adalah seorang wakil rakyat. Karena mungkin kalau yang kedapatan menonton adalah mahasiswa biasa, mungkin Ia hanya masuk ruang dekanat, tidak sampai masuk koran. Dan hal ini SEMAKIN BERTAMBAH BESAR ketika Arifinto ini merupakan perwakilan Partai PKS. Partai yang mengusung syariat Islam. Partai yang salah satu mentrinya duduk di posisi Kemenkominfo dan giat memerangi pornografi. Senjata makan tuan. Pagar makan tanaman. Gagak makan cincin (#eh). Ya, peribahasa tersebut kemudian seakan diperuntukkan untuk partai tersebut.
Seperti yang saya bilang, masalah keimanan adalah urusan individu dengan Tuhannya. Ketika ini digunakan sebagai slogan yang dibesar-besarkan sebuah partai, yang terjadi kemudian saat salah satu anggotanya saja melanggarnya, hal ini terlihat sebagai sebuah kemunafikkan. Yang kemudian ketika ada olok-olokkan yang berkaitan dengan hal ini, dapat saja menjadi isu yang terkait dengan sensitivitas keagamaan. Gesekkan berbau SARA.
Ya, marui kita lihat hal ini sebagai sebuah pelajaran.
Untuk mereka agar tetap was-was dan sadar bahwa mereka diawasi.
Untuk kita agar bisa tetap menjaga kata dan bahasa.

Wakil rakyat, seharusnya merakyat..
Bukan tidur waktu sidang soal rakyat..
-Iwan Fals

tidur aja sebaiknya jangan, apalagi nonton film porno, Pak.



March 16, 2011

deleted writing

Beberapa orang bertanya tentang posting saya, yang memang saya hapus kemarin.
Postng itu saya buat sesaat setelah berita tentang Bom di Komunitas Utan Kayu.
Pertama, Saya akan memohon maaf karena posting tersebut akhirnya saya hapus.
Kedua, ijinkan Saya memaparkan terlebih dahulu alasan Saya menghapusnya. Saya merasa tulisan tersebut sangat emosional (sedih). Dan sebagian isinya berupa doa, percakapan yang saya lakukan kepada Allah. Pada saat menulisnya, Saya memang sangat terbawa suasana. Saya berharap dan berdoa. Lalu tertuanglah doa-doa tersebut, mengalir melalui jemari saya yang menari di atas keyboard, sampai akhirnya muncul di blog saya.
Ketika saya membaca, Saya merasa ini terlalu emosional dan haru biru. Maka, Saya putuskan untuk menghapusnya.

Beberapa bagian dari posting tersebut yang bisa saya bagi:

.Lakum Dinukum Waliyaddin.



Sudah ya, kalo Saya tulis semua, nanti tidak ada bedanya dengan yang saya hapus.
Dan Saya yakin semua manusia itu baik.

January 25, 2011

A.N.T.R.E

Transjakarta telah menjadi kendaraan Saya sehari-hari. Dan, ya, sebagian besar pengguna Traja tampaknya tidak tahu apa itu antre. Dalam Barisan. Bukan saf berjajar. Apalagi membentuk lingkaran seperti koloni kuman.
Tapi, untuk hari ini ada pemandangan lain di Halte Traja UKI. Ada seorang petugas, namanya Iwan Setiawan. *Semoga Saya tidak salah ya* Dan yang saya salutkan dari Halte ini adalah pembagian tugasnnya. Setelah saya membeli tiket, Pak Iwan pun berteriak:
Yang ke Grogol, Baris di sini, ke belakang. KE BELAKANG. Yang Harmoni di sebelah Sini. Yang tengah Kosongin ya Pak, Buat yang turun.

Yak, menurut Saya ini salah satu usaha yang bagus. mengingat Halte terlalu kecil untuk dipasang separator seperti di Halte Harmoni. Ini merupakan salah satu cara untuk mengajarkan pada orang-orang dewasa-yang pastinya tidak mau dikatakan bodoh-tentang bagaimana caranya mengantre. Dalam barisan.

Namun, yang menarik adalah saat ada seorang Bapak yang baru turun dari Traja jurusan Harmoni dan ingin eruskan perjalanannya dengan Traja jurusan Slipi. Bapak tersebut turun dari Traja dan berhenti di tengah antrean. Kemudian sang petugas berkata:
Barisnya antre di belakang pak. Antre di belakang Pak.

Amazingly, Bapak-Bapak tersebut tetap tidak bergerak. Pak Iwan beberapa kali meminta penumpang-penumpang transit untuk mengantre dari belakang, beberapa menuruti, dan Bapak yang tadi kemudian menjawab:
Di sini ajalah, udah.


OH PEOPLE. ASTAGA!

Bus Traja jurusan Slipi pun datang. Saya ada di urutan kedua, SEHARUSNYA. Amazingly, Saya bahkan masuk entah di urutan ke berapa. Tapi yang pasti, sebelum saya masuk ke bus. Tangan kiri Saya membentang memegang pintu Traja, Menghalangi si Bapak transiters yang tidak mau antre, kemudian menyuruh beberapa orang di belakang saya masuk ke Bus. Kemudian Saya menoleh ke Bapak tersebut dan berkata:
Besok-besok Antre ya Pak. Malu sama yang lain.

Yak, Antre. Entah apa susahnya.
*) tulisan dibuat sebagai apresiasi kepada manajemen Halte Traja UKI atas usahanya untuk membuat antrean semakin tertib.

January 08, 2011

TO, CC, BCC

Di Sabtu pagi ini Saya akan mencoba membuat #pencitraan 'smart'. Maka Saya akan membuat sebuah Post yang isinya bukan curhatan. Walaupun posting ini berawal dari kekesalan Saya semata *lho tetap curhat*. Anyhei, I'm gonna talk about..*Ah, mari menggunakan Bahasa Indonesia saja* -Maafkan akan kejorokkan Saya dalam menggunakan Bahasa yang campur-campur. Padahal Bahasa Inggrispun Saya tidak fasih. Hanya kebiasaan #sombong semata-

Hari ini, Saya akan mencoba menulis tentang "To:, Cc:, dan Bcc:" dalam Surat Elektronik (Surel). Percayalah, Mereka ada untuk sebuah alasan. *trust me, They're there for a reason*. "To:" adalah "Kepada" yaitu orang utama kepada siapa surel tersebut ditujukkan. "Cc: -Carbon Copy-", dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai tembusan. Mereka yang berada di bagian ini adalah mereka yang boleh, sebaiknya, atau harus tahu tentang isi Surel tersebut. Bisa karena nama mereka disebut, atau ada mandat yang secara tidak langsung diberikan, atau dirujuk sebagai sumber informasi, dan lain sebagainya.
Yang terakhir, "Bcc:" atau "Blind C
arbon Copy" adalah bagian untuk orang-orang yang juga menerima Surel tersebut tanpa diketahui oleh orang lain kecuali pengirimnya. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa perlu ada "penerima gelap' dalam sebuah surel. Tapi, SALAH SATU FUNGSI PENTING dari Bcc ini adalah ketika kita mengirimkan Broadcast Email. Baik itu berupa informasi internal kantor, apalagi eksternal kantor. Mengapa? Karena Anda tidak perlu menyebarkan alamat surel Saya kepada teman-teman Anda yang tidak Saya kenal.
Menjadi kewajiban bagi kita, tanpa izin dari sang pemilik alamat Surel, untuk menjaga dan tidak memberikan alamat surel siapapun kepada orang lain.
Fungsi lain Bcc? Saat Anda mengirimkan Ucapan Selamat Idul Fitri, Selamat Natal, Selamat Tahun Baru atau mengumumkan sesuatu seperti sebuah berita bahagia ataupun berita suka cita, TIDAK SEMUA PENERIMA HARUS MEMBACA respon-respon dari surel Anda. Apalagi apabila penerima Surel lain 'tidak terbiasa' untuk mengirim balasan langsung kepada pengirim surel SAJA.
Ya, Teman-teman, Saya juga bukan yang ahli atau pintar dalam hal ini. tetapi, mari kita sama-sama belajar untuk lebih bijaksana dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi. Sejujurnya, Saya cukup terganggu dengan banyaknya orang-orang tidak dikenal yang meminta izin untuk berteman di YM. *akhirnya tetap curhat*

Terima kasih telah membaca, semoga berguna. :)