cari di sini

July 19, 2011

Love lesson

*melihat papa mencuci piring*
aku: "nyuci piring boss? " *anak durhaka*
papa: "iya, kasian mama, kalau nyuci piring malem2 tangannya sakit. Jadi besok pagi bangun2 nyuci piring deh. Jadi mending papa yang cuciin.."
aku: :') *anak durhaka kini terharu*

Dad shows his love in simple way, constantly. That's the best lesson and experience I have about growing old together, about loving each other.


July 15, 2011

Commuter Line?

Siang ini di SCTV ada berita tentang kereta commuter line. Yang Saya baca dari tweet teman2 saya yang anak kereta -duile- sih, banyak keluhannya. Hmm, saya sendiri sempat menjadi anak kereta selama 1 tahun kemarin. Setelah resign, hubungan Saya sama kereta juga hampir putus. -duile, lagi-

Anyway, selama setahun kemarin, kereta menjadi moda yang cukup Saya andalkan. Saya menjadi anak kereta. Benci-benci cinta kalau dia lagi terlambat atau ada gangguan. Tapi, waktu tempuhnya menjadi yang paling nyaman dan sehat mental buat Saya yang berkantor di Slipi dan pulang ke Cijantung (naik kereta dari Stasiun Tanah Abang sampai Stasiun UI).

Bukannya Saya sombong, (walau emang sombong), tapi, Saya biasanya lebih memilih kereta ekspress. Ya, bedanya memang cukup banyak, 3500 rupiah. Coba dikali 20 hari kerja, Lumayan kan? Saya punya beberapa alasan mengapa Saya memilih kereta ekspress. Pertama, waktu tempuhnya yang lebih cepat. Ya, walau kereta ekonomi AC seringkali datang lebih dulu, tapi, ekspress seringkali waktu tempuhnya lebih cepat. Ngga kelamaan dijalan, ceuk mama teh. Kedua, lebih nyaman. Kereta ekspress biasanya hanya berhenti di Stasiun Sudirman. Artinya, hanya ada satu kali penambahan penumpang. Ngga terus menerus disesaki. Dipaksakan, padahal sudah tidak cocok lagi, eh tidak cukup lagi. *selain itu, di Sudirman yang naik kadang2 mas-mas ganteng yang pulang kantor. Wangi.* *teeeeeet*

Yak, yang ketiga, lebih aman. Seriously. Ketika kuliah, Saya sering naik kereta ekonomi maupun ekonomi AC. Hmm, berhenti di setiap stasiun berarti kesempatan si copet untuk kabur sesaat setelah nyopet itu lebih banyak. Waktu untuk nyopetnya pun lebih banyak. Setara dengan jumlah stasiun yang akan dihampiri si kereta. Ekonomi AC ada copet? Karena berhenti di setiap stasiun, mereka gak perlu beli karcis. Setelah naik, nyopet, turun aja di stasiun terdekat. Biasanya mereka lebih hapal tentang waktu pengecekkan karcis, kan?

Hmm, berhubung kita harus selalu mendukung usaha perbaikkan yang dilakukan, semoga faktor-faktor kenyamanan di atas diperhatikan oleh pengelola Commuter-Line yang tampak seperti baju baru buat Ekonomi AC. Selain itu, kita juga harus paham, kenapa kereta sering mengalami gangguan? Ongkos kereta yang kita bayar selama itu disubsidi. Dan jumlah subsidi yang SEHARUSNYA dibayarkan pemerintah itu cukup banyak. Sayangnya, saya perrnah membaca kalau utang subsidi ini belum dibayarkan oleh pemerintah ke pengelola. Jadi, kalo tarif/ongkos tiket harus terus dipotong, tapi subsidinya ngga dibayar, tambah lagi banyak yang tidak beli tiket, gimana pengelola mau melakukan perawatan?

Ya, kira-kira, itu yang ada di pikiran Saya tentang Commuter Line, eh, perkeretaan. Since, belum pernah naik Commuter Line. Semoga kita bisa saling mendukung dan menjaga fasilitas bersama. Seperti yang ditanamkan sejak SD di pelajaran PPKn dulu. Hmm, termasuk tidak membuang sampah permen, aqua gelas, atau bungkus snack lainnya di dalam gerbong. Ingat, kebersihan sebagian dari iman.



July 12, 2011

Untuk Pengendara Motor yang Baik..

Selain mabuk, hal lain yang berbahaya bagi pengendara (motor) adalah pengendara motor lain yang baru bisa naik motor.

Seriously. Perilaku mereka bisa disetarakan dengan (sebagian besar) pengendara bajaj. Men, hanya mereka dan tuhan yang tahu, kapan mereka mau berhenti, atau belok.

Dear You stupid riders,
Bisa ngegas dan menjaga keseimbangan motor ngga membuat Anda layak menjadi seorang pengendara motor.
Jangan karena motor matic hanya perlu gas dan rem, Anda lantas merasa pantas berkendara di jalan raya. Oh men, percayalah, test mendapat SIM motor gak semudah itu.

Berkendara dengan selamat bukan hanya tentang Anda bisa selamat selama berkendara. Kalo ada orang yang gak selamat karena Anda, itu fatal.
Kalo Anda selamat selama berkendara di jalan, belum tentu karena Anda jago, mungkin karena orang lain yang mengalah, atau mungkin pasrah menghadapi kebodohan Anda.

Anda bukan pembalap MotoGP. Motor Anda dilengkapi kaca spion. Dua buah. Kalo posisi spion Anda sudah berdoa, menengadah ke atas, bagaimana Anda bisa melihat kendaraan lain di belakang Anda.
Motor Anda juga punya lampu sen. Bukan hanya sebelum belok, sebelum Anda pindah lajur, berikanlah tanda untuk kendaraan di sekeliling Anda. Sebelum pindah/belok, jangan lupa, sekali lagi, LIHAT SPION, mbak.

Seriously, berkembangnya motor matic berkorelasi positif dengan kekacauan di jalan (gw rasa). Jalan di lajur kanan, tapi kecepatan setara dengan kendaraan di sebelah kirinya, atau malah di sebelah kirinya kosong itu bikin orang pengen nyusul sambil nendang kendaraan Anda.
Dan buat mereka yang suka mengendarai motor pakai 1 tangan, kalo gw nyusul trus ngerem mendadak di depan lo, gw cuma mau tes kesigapan lo. Kalo mau santai, jalan di kampung aja Mas, jangan di jalan raya.

Tapi, ini serius. Ini kenapa tulisan ini dibuat dalam Bahasa Indonesia. Biar pengendara-pengendara motor yang kapasitas otaknya kurang, bisa paham tulisan ini.
Bahwa berkendara dengan selamat itu bukan berarti ANDA saja yang SELAMAT, tapi pengguna jalan yang lain juga TIDAK CELAKA dan TIDAK TERGANGGU KENYAMANANNYA karena ANDA.

BIJAK, JAGA KESELAMATAN ANDA DAN ORANG SEKITAR ANDA.

July 01, 2011

Movie: Something Borrowed (2011)

Persahabatan dan cinta itu memang, tipis-tipis berbahaya. Sengganya, ini yang gw tangkep dari film Something Borrowed. dan hidup gw. Meh.


Rachel (Ginnifer Goodwin) bersahabat sejak kecil dengan Darcy (Kate Hudson). Darcy yang modis dan 'gaul' akan segera menikah dengan Dex (Colin Egglesfield), sahabat Rachel sejak mereka kuliah hukum. Darcy, selalu mendapatkan apa yang ia Inginkan. Itulah yang dilihat oleh Rachel. Hidup mewah, popular, dan dengan kapasitas akademisnya yang kurang, Darcy bahkan diterima di Notre Dame University. Maka, Dex yang tampan dan pintar definitely would choose Darcy than herself. That was what she thought.
Kalo lo dan sahabat lo menyukai cowo yang sama, sementara sahabatlo lebih atraktif dan 'cool', apa yang akan lo lakukan? Memperjuangkan perasaanlo? BOHONG!

Konflik dimulai saat setelah beberapa kejadian, ternyata, Rachel yang menganggap Dex hanya menganggapnya sebagai sahabatnya malah tak sengaja mengungkapkan perasaannya. Dan Dex, yang ternyata menganggap Rachel hanya menganggapnya sebagai sahabatnya, akan segera menikahi Darcy. Sahabat Rachel.

Be honest! Apa lo akan memilih untuk hidup sesuai keinginanlo, atau, lebih sering untuk hidup sesuai harapan orang tentang lo? Kegamangan ini pun terjadi. Rachel ingin menghindari semua ini, karena tidak ada sahabat yang ingin merebut calon suami sahabatnya. Walaupun, keinginannya adalah melakukan hal itu. WHAT WOULD PEOPLE SAY??

Sayangnya, pada saat Rachel memilih untuk mengikuti keinginannya, Dex tidak mampu memperjuangkan keinginannya. Seperti Ia tidak mengikuti keinginannya menjadi guru karen orang-orang di sekitarnya melihat Ia sangat cocok menjadi seorang pengacara. Membatalkan pernikahan bukan sesuatu yang diharapkan orang-orang darinya. Terlebih lagi saat orang tuanya menekan Dex untuk menjaga kehormatan keluarga.

Apa yang terjadi? Tenang, ada Ethan (John Krasinski) sahabat Rachel dan Darcy sejak kecil yang ternyata mengungkapkan perasaannya. Drama belum selesai. Konflik belum usai. Ada Marcus (Steve Howey), sahabat Dex, yang membuat drama semakin seru.

DO WATCH THIS MOVIE! Terlebih lagi untuk Anda, yang seringkali 'mengalah".

poster source



June 28, 2011

Movie: Last Night (2010/2011)

Sebagai perempuan, ketika Anda pergi bersama pasangan Anda, pernahkah Anda melihat sinyal-sinyal bahwa ada perempuan lain yang tertarik pada pasangan Anda? Sialnya adalah, ketika perempuan tersebut cukup atraktif. Hal ini akan lebih parah apabila Ia adalah kolega pasangan Anda.

Saya menonton sebuah film pada pre-release lalu, Last Night. Bercerita tentang kehidupan pernikahan seorang penulis, Joanna (Keira Knitghley) dan Michael Reed (Sam Worthington), seorang pebisnis. Kisah ringan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dalam pernikahan, mungkin juga dalam kisah cinta Anda.

Last Night bercerita saat pasangan ini terpisah pada satu malam karena Michael harus menghadiri business trip bersama koleganya, Laura (Eva Mendez) yang ternyata saling tertarik dengan Michael. Michael berusaha menahan diri dan tetap setia, sementara Joanna ternyata kedatangan tamu, Alex (Guillaume Canet), kisah cintanya yang lalu. Malam seperti apa yang mereka lalui saat mereka terpisah? Bisakah mereka tetap setia satu sama lain?

Geregetan dan deg-degan adalah apa yang Saya rasakan saat menonton film ini. Ya, karena kisahnya ringan, dan sangat nyata. Dan mungkin, pernah kita alami.

Poster: Last Night

poster source

June 22, 2011

Jika Aku Menjadi dan "kemana sih anak-anaknya??"

Weekend lalu gw sempet nonton 'Jika Aku Menjadi' yang tayang di Trans TV. Ya. Intinya adalah memberikan 'kesempatan' untuk orang-orang muda yang lebih beruntung untuk hidup seperti orang-orang yang 'lebih hebat'.
Perempuan hebat yang kisahnya diangkat minggu lalu adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Ia sampai terpaksa makan semacam umbi-umbian karena tidak punya uang untuk makan nasi. Untuk menahan rasa sakit tangannya yang patah, beliau bahkan meminum obat untuk unggas.
Gw nangis aja deh. Kaya digamparin pake ipad deh rasanya.
Tapi ada satu scene dimana peserta bilang bahwa sang nenek sebenarnya merasa kesepian, tapi ia tidak mau mempermasalahkan anak-anaknya yang tidak mengunjunginya.
Yes. Setiap kali gw nonton acara semacam ini, dimana ada orang tua yang tinggal sendiri, di rumah yang tidak lagi layak, gw akan bertanya: kemana sih anak-cucunya?? Tapi, itu dulu.
Dulu? Ya. Gw mengalaminya. Almarhumah nenek gw dulu tinggal sendiri di desa gw. Kami, terutama nyokap gw, bukannya gak mau mengurus beliau. Tapi, seriously, kami seringkali meminta beliau tinggal bersama kami, atau salah satu anaknya, di Jakarta. Tapi, beliau bersikeras tidak ingin meninggalkan rumah tuanya di desa. Alasannya: tidak ada yang mengurus rumah dan kebun. Banyak kenangan yang ada di rumah tersebut. Padahal, kami punya penjaga rumah dan kebun.
Kita harus paham, setiap sudut rumah yang sudah lama kalian tinggali pasti punya kenangan yang akan sulit dilepaskan kan? Tampaknya itu juga yang menjadi alasan orang-orang tua di reality show dan kehidupan nyata sulit untuk meninggalkan 'rumah tua' mereka. Sulit untuk memasukkan kenangan baru dalam memory mereka, dan, sulit untuk kita memaksa mereka untuk melepas kenangan yang telah tertanam. Dan gw, gw sedih banget kalo harus memaksa beliau cuma bisa mengingat rumah itu dalam kenangannya karena harus jauh dari rumah itu. Gw aja kalo lagi BT banget selalu kabur ke rumah itu. Gw akan merasa tenang dan tentram.
Nyokap gw hanya akan memaksa, as in marah, nenek gw untuk ke Jakarta apabila beliau sakit. Kalau beliau sudah sembuh, maka beliau akan memaksa, as in ngambek, untuk cepat kembali ke desa.
Sulit untuk kami mencari 'pendamping' yang sesuai dengan beliau. Beliau masih didikkan Belanda yang tegas, teratur, dan penuh norma. Maka, sulit untuk mencari yang bisa 'patuh' dan bertahan dengan beliau. Untunglah yag terakhir ini tidak ada masalah.
Ya, sekarang gw udah ngga lagi 'sewot' "anak-anaknya kemana sih??" kalo nonton acara semacam ini. Karena, mungkin keturunan nenek gw mungkin masih mampu untuk sering menjenguk beliau. Masih cukup untuk membayar 'pendamping' untuk beliau. Sedangkan yang di tivi? Mungkin keturunan nenek/kakek tersebut memang tidak mampu untuk sering-sering berkunjung, atau membawakan makanan, apalagi harus mencari 'pendamping' bagi orang tua mereka. Dan, seperti nenek gw, mungkin mereka juga gak bisa memaksa orang tua mereka untuk ikut tinggal bersama mereka.
Jadi, gw sudah berhenti untuk nyinyir 'kemana sih anak-anaknya?'

Dan gw, sangat kangen nenek gw. Bobok yang tenang ya Mbah.. :')


June 10, 2011

Coffee-addict Anonymous

Yak, jadi gini ya kawan, saya akan menulis sesuatu yang fungsinya membantu diri saya sendiri.
Saya baru menyadari satu hal.

Hari Sabtu lalu saya mengadakan pelatihan di SMA Gonzaga, dan entah kenapa hari itu saya merasa 'aneh'. Seperti merasa tidak berada di sana. Akhirnya, malamnya saya dan teman saya, Verdi memutuskan untuk keluar dan mencari makanan. Kami pergi ke Indomart. Saya akhirnya keluar dengan segelas kopi panas di tangan.
Verdi kemudian menyadarkan saya, "lo udah addicted ya?" sambil masih berusaha meraba-raba how far 'kecanduan' is, Verdi menambahkan, "lo gelisah banget seharian ini."
YES. Ini jawabannya. Inilah kenapa saya merasa 'aneh' seharian ini. Dan kenapa akhirnya setelah minum kopi saya merasa lebih nyaman. Dan Verdi akhirnya menyadarkan saya. Yes. Minggu lalu saya pergi ke acara keluarga. Hari itu pun saya merasa uring-uringan. Sore harinya akhirnya saya keluar dan membeli kopi. Dan, kalau saya mau lebih jujur pada diri saya sendiri, ternyata memang hal ini sering terjadi. Bedanya, pada saat pelatihan atau acara keluarga, saya tidak seleluasa itu untuk pergi ke dapur dan membuat kopi.
So here I am. Berhenti denying keadaan bahwa saya kecanduan. Saya sudah 2 kali relaps. Dan saya mengundang teman2 yang ingin membantu saya untuk berhenti dari kecanduan ini. Kenapa ini seolah-olah menjadi hal besar? Karena merasa uring-uringan saat ngga bisa ngopi itu mengganggu, kawan. Karena saat otak Anda berhenti bekerja karena belum ngopi juga mengganggu, kawan.
Saya sudah beberapa kali mecoba men-substitusi dengan teh. But, I won't stop drink tea. I have to substitute 2 glasses of coffee with a-whole-day of Tea. Dan, saya pikir, ini ngga kalah -ngga-sehatnya.
Jadi, terimalah undanganku ini, kawan. Kalau ada yang mau membuat intervensi untuk para pecandu kopi-or-at-least-caffeine, Saya bersedia bergabung. Ciao.

June 09, 2011

S.A.C

Happy Thursday people!!!

Weew, a lot of things need to be shared. I'm so sorry that I have to prepare some presentations, important ones, so that this blog was neglected.. :(
Here I am. Got to tell you some updates:
1. I have resigned from BINUS University. This is hard. But this is the choice I have to take due to my next update -->
2. GOT MY NEW 'JAKUN' and 'KTM'. Yeaaaay!! I'm officially a student again!! Wish me luck people!!

Then, in this post, I'll share about my first update. Teng terereeeeng...

Yes, May 31st was my last day at BINUS UNIVERSITY. I've told you, this is not easy. I've told you as well how I love this place, this job. But, once again, this is the choice I've made. For my study.
May 30th, we held an internel meeting. But since this meeting was started, I know, I wasn't there. My mind was flying here and there. Rewinding all the so called great and silly time we had. And, the last session of the meeting was my session. As a talkative one-yeay- this is the hardest session I ever had. Hrrr. I didn't mean to be so mello-dramatic. But I couldn't. -Ah, I hate Manga for having such of it-
It was hard, even only to say 'Thank You', without remembering all the memories I had with each of them. So, yes, I cried. A lot.

Mbak Astri, my manager. She always know how to support her team. She always emphasizing that the important thing from a task that was given to her team is the chance to learn and improve.
Mbak Anggi, my head section. The one give me trust that push me to learn and improve. The one that thought me alot about the structure and procedure.
Mbak Reno, the one that frequently got 'another job' from me, when the deadline was closeeeeeer.
Mbak Ucil, my snack stealer. :p the one that always cheer me when she bullies Ocep.
Eileen, the great BINUSIAN. From students that took a mentor role, than bravely took nindya role than came as one of the family. Trust me, you'll learn a lot from this team.
Mbak Dede, *uhuk* we want another baby in the team *uhuk*. Mbakku yang baik dan bijak. The one who always teach me how to grow up, hillariously. :p
Ci Lau, orang paling sabar sedunia. The one that might remember me as her nightmare. Since, one day, the first time we took the same route to go home, we were trapped in a worst flood. No bus, bajaj, or cab. Meh. Sooooowwwrrryyyy ya...
Vica, the photographer. The one that seems keep alot in her mind. I hope you cam learn and improve alot with this team. I know this team need your hands more than you think.. :)
*elap ingus*
kakak Geoooo, the one that gave me farewell speech as if I were his girlfriend. Ah, my partner in GAULness. My last MCing partner. I wish you came earlier deh Kaaaak, We could have made the most gaul duet ever. Eh, terima kasih ya sepatunyaaaa... *ciumbasah*
kakak Yeyey, my fashion-guru. My shoe-fetish partner. My lovely sister. Huhuhu. The one that I always come to when I need to charge my battery. *ini kok kayak porno ya jadinya??* *shoooooooo*
Rut, Cinca Lowra KW9. The one that I love so much. :D for the reason that you know ya Ruuut. :p without you, my day would be so empty. Trust me.
Wiwit, the one that take me to train-world. The most-orderly person in team. That put things right in the right place precisely. Take a breath Wit..
Mbak Ria, my partner in almost everything. Coffee time-mate. Bullying people-mate. Gossiping thru eyes-mate. Planning something bad-mate. Ah, we shared too much Mbak, that's why we fight a lot as well. My Padang Jauh genk.
My Ocep!! The one that show me that grow up is fun when you keep your childhood inside. I'll miss you live stories, your gossip about everyone-that sometimes i don't even know-. I miss the time you sneak up to my desk and put that frustrated face when the formula you made didn't work. Aaaaaaaaaaaaaa..
Last but not least, the one that I didn't meet in my last day, Mangaraja. The one that took me to this great place. Let's meet up at Sagalaherang.

Thank you all, Cry, Laugh, fail, learn, success, and all of the great things happened in my life.
THANK YOU.


May 27, 2011

your simple ways

I love how you keep it simple.
'Have a nice day' in every morning;
Short call for a 'take care' at the end of my work hour;
'Selamat bobo' in every night;
And for each of them, there's always 'ilumu' at the end.

Thank You,
For, constantly, show me how it feels to be loved.

May 02, 2011

My Favorite Teacher!

2 Mei 2011, Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Well, pendidikan di Indonesia memang masih belum sempurna, tapi, SAYA PERCAYA, kita akan menuju ke sana. Banyak orang di sekitar Saya yang Saya ketahui mereka berjuang untuk hal ini.
Saya? Hari ini Saya akan menulis tentang Salah satu guru favorit saya. Sebelum Saya menulis tentang beliau, Saya akan bersyukur bahwa Saya mengalami sesuatu yang disebut 'sibling rivalry'. Hal ini membuat Saya tidak mau kalah dengan Kakak Saya yang berprestasi di sekolahnya. Yang kemudian, membuat Saya bersyukur karena memiliki Guru yang bisa memfasilitasi dan mengatasi 'sibling rivalry' ini.
'Pergi sekolah' adalah hal yang Saya ingin lakukan sejak Saya berusia 3 tahun (menurut mama). Ya, usia Saya dan kakak berbeda 7 tahun. Maka, sejak Saya tahu dan bisa merasa iri, Saya langsung merasakannya saat melihat Kakak Saya pergi sekolah. Maka, sesuai tren Ibu-Ibu sekitar, Mama mengikutkan Saya ke sebuah TK Islam. Saya 'sukses' di sana. Kata mama, Saya sekolah 1 kali Seminggu. Saat Mama tanya, "Dik, mau sekolah ngga?", Saya akan menjawab, "Ngga ah! Sekolahnya ngaji melulu!" ASTAGFIRULLAH emang, tapi, huff, itulah Saya. Meh.
Maka, di sinilah peran Guru favorit Saya. Beliau mengajarkan Saya membaca, menulis dan berhitung. Dan saya cinta matematika. Mama. Guru favorit Saya adalah mama. Beliau seorang Ibu rumah tangga. Saya anak bawel yang tidak mau kalah dengan Kakaknya. Maka, saya akan gemar bertanya ini-itu dan akan mengeja ini-itu. Mama juga akan sering 'meminta tolong' Saya untuk menghitung jumlah belanja hari ini. YEAYNES!
Akhirnya, Saya 'tidak lulus' TK pada tahun tersebut. Alasannya: karena usianya belum cukup. Meh. Akhirnya Saya mengulang TK, tapi kali ini Saya pindah ke TK Mekar Sari. I love this kindergarten. Karena Saya tidak perlu lagi 'belajar'. Saya hanya perlu bermain-main di sekolah, karena belajar sudah Saya lakukan bersama mama di rumah. Di sekolah, semua menjadi lebih mudah. :D

Salah satu guru favorit saya adalah salah satu guru Bahasa Inggris saya. Dan Christie, seorang professor dari Ohio State University memuji Bahasa Inggris Saya. *pongah* Bukan, bukan untuk grammarnya saya rasa, -_- tapi untuk fluency Saya. *GR bukan main rasanya*
Guru Bahasa Inggris favorit Saya ini, percaya atau tidak, tidak bisa Bahasa Inggris. Ya, Beliau hanya tahu sedikit-sedikit. Mama. Guru Bahasa Inggris pertama saya adalah mama. Sejak TK, mama selalu menemani Saya untuk menonton film-film berbahasa Inggris, semacam "Layar Emas RCTI" yang biasanya dipotong berita jam 9 malam. Metode mama sangat canggih. Kami menonton film-film berbahasa Inggris, lalu sesekali aku diminta untuk mengulangnya, dan mama akan meberitahu artinya. Saya rasa, bukan masalah arti kata yang Saya pelajari, lebih ke pelafalan. Mungkin.
Memasuki masa SD, tugas belajar Bahasa Inggris saya semakin berat. Menulis lirik lagu- yang akhirnya pita kasetnya rusak karena seringkali di-rewind-dan kemudian berusaha mengartikannya. Mama bertugas menilai. Lalu Saya dan Kakak mulai berlatih menggunakan Bahasa Inggris di rumah.

Ya, Saya seringkali merasa beruntung karena mama seorang Ibu Rumah Tangga. Saya tidak mengecilkan Ibu-Ibu Rumah Tangga yang menajdi wanita karir. Saya tetap Salut untuk mereka. Tapi, memiliki Ibu yang seorang Ibu Rumah Tangga membuat Saya memiliki guru sepanjang hari. Saat beliau menyapu, mengepel, mencuci baju, memasak, atau bahkan menina-bobokan Saya.

*Tulisan ini kemudian lebih cocok menjadi tulisan di Hari Ibu dibanding Hari Pendidikan Nasional.*
Intinya, menurut Saya, Pendidikan formal di sekolah memang Hal yang tidak boleh dikesampingkan, namun, Pendidikan yang baik dimulai dari dalam rumah.

pesan mama: Salam Sayangnya mana?

I Love You, Mom!