cari di sini

August 25, 2011

38.9 derajat celcius dan mengajar

Hrr, beberapa hari ini, I'm not feeling well.
Dan SIYALnya, banyak teman-teman saya yang bersyukur karena Saya sakit.
"Wah, lo bisa sakit juga? Syukur deh, kalo ngga sakit lo ngga istirahat."

kata Anna. Belum lagi di twitter. Yah, Saya bersyukur banyak yang memperhatikan Saya, terima kasih lho teman-teman, for knowing me that well. -___-

Saya akhirnya sadar, Saya memang sudah sangat jahat pada tubuh Saya sendiri. Sebutlah, kalau cuma suhu badan yang 'sedikit' meningkat sih biasa. Pusing sih bisa dilawan. Batuk mah pakai masker aja. Malah, pertengahan puasa kemarin, Saya sempat 4 hari gak makan, as in tidak mengonsumsi karbohidrat yang cukup. Jadi ceritanya, Saya sedang tidak puasa, jadi mama tidak membangunkan untuk sahur. Nah sesiangan sibuk kerja dan mengerjakan ini-itu ya, rasanya seperti puasa aja. Then, ketika waktunya berbuka, layaknya saat berpuasa, minum air dan beberapa potong tahu goreng tepung *turun temurun di keluarga* sudah mengisi penuh rongga perut yang kosong. Akhirnya, suatu pagi, Saya merasa sangat lapar saat bangun tidur. Saat itulah Saya baru ingat, kalau ternyata terakhir Saya makan adalah saat buka puasa bersama 4 hari sebelumnya. AHAHAHAHAHA. Ngelawak emang Saya ini.

Nah ceritanya, Selasa kemarin, hari ke-5 OBM 2011, Saya merasa sangat tidak enak badan. Bangun pagi, Saya menggigil dan meriang. Saya memaksakan diri. Karena, memang begitulah biasanya. Badan Saya terasa sangat nyeri, kepala Saya sakit dan pusing. Ya, sakit itu seperti ditusuk-tusuk, dan pusing itu seperti muter-muter, and I got them both.
THE SHOW MUST GO ON. Saya tiba di kampus dengan muka super memelas dan dikasihani sejuta fasilitator lain yang melihat. Masuk ke kelas menggunakan jaket, dan bersiap tampil 'seadanya' karena sangat tidak bisa bergerak.

Tapi, Larry King pernah bilang, saat kau berada di panggung, kamu bukanlah dirimu, kamu adalah dia yang diharapkan ada di panggung. Tiba-tiba Saya merasa 'tambah sakit' dengan menggunakan jaket. Akhirnya, Saya melepaskan jaket dan mencoba terus mengajar 'senormal' biasanya. VOILA, Saya bisa menyelesaikan tugas Saya hari itu. 2 sesi seperti biasa, artinya 2 kali 3 jam untuk memfasilitasi mahasiswa/i baru UI untuk belajar tentang aplikasi e-learning yang digunakan di UI. 2 kali memimpin 55 mahasiswa di kelas yang panjang seperti patas. Alhamdulillah, hasil penilaian mereka sangat memuaskan.

Sayangnya, 'orang lain' dalam diri Saya langsung minggat saat selesai mengajar. Badan kembali panas, kepala kembali 'cenat-cenut' hebat tiada tara. Saya memutuskan untuk langsung pulang, mengingat, masih ada hari terakhir yang harus saya 'tutup' dengan indah. Sampai rumah, demam Saya mulai berlebihan, panas tubuh mencapai 38.8 - 38.9 derajat celcius. Kepala Saya pusing bukan main, hingga tiduran pun tidak bisa membuatnya terasa lebih baik. Ketika tidak sanggup untuk ke dokter, Saya merasa terberkati punya banyak teman-teman dokter. Akhirnya @wahadasara, Ari dan Harry berhasil membantu Saya, menenangkan Saya, dan memberi beberapa suggestion untuk Saya. Walau tidak bisa makan, Saya memaksakan diri Saya untuk makan. Esok harinya, Saya kembali bisa mengajar, demamnya turun, tapi pusingnya menetap. Sara curiga ini Typhus atau infeksi bakteri. Kemudian Ia menyuruh Saya untuk melakukan tes darah. *doakan Saya hasilnya baik ya*

Hih! ini posting tentang apa sih? Saat ini sih masih pusing, tapi ya, pusing itu biasa *tetep ya* Intinya, Saya memang yakin, kekuatan passion memang besar. Buktinya, saat waktunya mengajar, Saya bisa lupa sama pusing Saya, giliran selesai ngajar, langsung pengen nangis sakitnya. Kedua, jangan jahatin badan kalian kaya Saya ya. Badan ini kan titipan Beliau. Bukan berarti kalian harus sering minum obat kalau sakit, tapi ISTIRAHAT. Karena sakit adalah tanda-tanda si tubuh udah mulai protes. Bukan berarti lemah atau riwil, tapi coba kenali tubuh kalian. Jangan terlalu dipaksakan, kalau 'drop' smapai harus masuk Rumah Sakit, lebih repot urusannya. Mahal, buang waktu, mengganggu aktivitas dan jadwal orang lain (yang kepentingannya melibatkan kita).

August 24, 2011

OBM UI 2011

Huaaa, hampir 1 abad tidak meng-update blog ini. Maaf ya, maklum, agak sibuk.. :(

2 bulan ini merupakan bulan yang memberikan saya pelajaran berharga.
Saya tergabung dalam fasilitator yang tugasnya mendampingi mahasiswa yang baru masuk UI dalam masa Pra Kuliah ini. Materi yang diberikan pada masa ini berisi persiapan2 yang akan berguna untuk menunjang kesuksesannya. Dimas menganggapnya sebagai masa pemberian peta dan kompas.
Di titik ini mereka diberikan gambaran medan, serta diberikan kompas. Mereka yang menentukan tujuannya. Mereka juga yang akan menentukan akan menggunakan kompasnya dengan baik atau tidak. Karena kami hanya memberi dan mengajarkan penggunaannya, tapi tak bisa memaksa mereka menggunakan keduanya, peta dan kompas.

Beberapa fasilitator mengajarkan pada saya untuk tidak percaya pada apa yang ditampilkannya saat 'tes' yang kami berikan. Karena ternyata komitmen mereka rendah. Atau bahkan, karena 'terlalu' cerdas, attitude mereka kurang baik. Namun, lebih banyak fasilitator yang membuat kami bangga. Karena ternyata kami memilih orang2 hebat. Belum lagi bila melihat kinerja mereka yang meningkat setelah pelatihan yang kami susun.

Satu yang berkesan. Suatu hari seorang fasilitator tidak bisa hadir, saat dikonfirmasi melalui telepon, Ia sangat menyesal dan sebenarnya sangat ingin hadir. Saat ditanya alasannya, ternyata Ayahnya meninggal malam sebelumnya. Kami terhenyak. Lemas, dan merasa jahat.
Pagi esoknya fasilitator ini hadir. Kami semua sulit berkata-kata. Serba salah. Ia sedang berduka, kemarin Ayahnya berpulang, hari ini Ia bekerja seperti biasa. Saya, ingin nangis rasanya. Dia kemudian malah minta maaf penuh sesal sambil cerita bahwa kemarin sebenarnya sangat ingin datang karena SUDAH JANJI UNTUK DATANG FULL SEMINGGU. Komitmennya membuat perut saya bergejolak. Terharu, bangga, sekaligus malu membandingkan dengan diri saya sendiri. Untungnya, Ibundanya melarangnya untuk datang. Apabila Ia tetap datang saat itu, dan kami tahu keadaannya, entah kami harus malu seperti apa lagi.

Pelajaran lain datang mahasiswa yang baru saja masuk. Dengan semangat dan kebanggan penuh, Ia mengikuti kegiatan pra kuliah ini dengan baik. Suatu kejadian membuat kami mengetahui latar belakangnya. Orang tuanya petani, bahkan dengan lantangnya Ia bilang 'bukan, orang tua saya bukan petani, hanya pesuruhnya.' Kami sudah tidak tega lagi berdebat. Ibunya, tidak tamat SD. Saya sekali lagi terpecut dengan semangat dan keberhasilan Mahasiswa baru ini. Ia mungkin memanggul harapan yang besar. Bukan hanya dari keluarganya, tapi juga harapan seluruh desanya. Berjuang ke Jakarta, menuntut ilmu. Semoga kelak Ia bisa mengangkat kesejahteraan warga desanya.

Semangat, komitmen, cita-cita. Itu adalah hal selain teman baru, pengalaman, tawa dalam lelah yang kami rasakan. OBM tahun ini memberi pelajaran lebih banyak dari tahun sebelumnya. Dan semoga Saya tidak pernah puas dan mau terus belajar.
Terima kasih rekan-rekan fasilitator yang sudah berjuang bersama Saya. Senang mengenal Anda semua.


August 04, 2011

ketegaran dibalik sebuah kepergian

Ternyata, kehilangan seseorang masih menjadi suatu 'ujian' untuk saya.
Setiap kali mengetahui ada seseorang yang baru kehilangan orang yang disayangnya karena meninggal dunia, hati saya rasanya ikut remuk.
Walaupun, Saya tidak mengenalnya, sama sekali.
Saya merasa sesak, dan sakit.
Seberapapun orang tersebut berusaha tegar, air mata saya akan tetap tumpah.
Karena pada masa itu, pada masa dimana orang yang saya kasihi kembali kepada-Nya, sebesar apapun senyum yang saya pasang, hati saya meraung-raung.
Seberapapun saya berusaha tegar, tubuh saya lemas.
Seperti semua tulang dari tubuh saya diangkat.

Untuk keluarga dan kekasih korban helikopter yang jatuh di Sulawesi, ketegaranmu luar biasa.
Pasti besar cintamu kepadanya, pun cintamu pada Tuhan.



July 19, 2011

Love lesson

*melihat papa mencuci piring*
aku: "nyuci piring boss? " *anak durhaka*
papa: "iya, kasian mama, kalau nyuci piring malem2 tangannya sakit. Jadi besok pagi bangun2 nyuci piring deh. Jadi mending papa yang cuciin.."
aku: :') *anak durhaka kini terharu*

Dad shows his love in simple way, constantly. That's the best lesson and experience I have about growing old together, about loving each other.


July 15, 2011

Commuter Line?

Siang ini di SCTV ada berita tentang kereta commuter line. Yang Saya baca dari tweet teman2 saya yang anak kereta -duile- sih, banyak keluhannya. Hmm, saya sendiri sempat menjadi anak kereta selama 1 tahun kemarin. Setelah resign, hubungan Saya sama kereta juga hampir putus. -duile, lagi-

Anyway, selama setahun kemarin, kereta menjadi moda yang cukup Saya andalkan. Saya menjadi anak kereta. Benci-benci cinta kalau dia lagi terlambat atau ada gangguan. Tapi, waktu tempuhnya menjadi yang paling nyaman dan sehat mental buat Saya yang berkantor di Slipi dan pulang ke Cijantung (naik kereta dari Stasiun Tanah Abang sampai Stasiun UI).

Bukannya Saya sombong, (walau emang sombong), tapi, Saya biasanya lebih memilih kereta ekspress. Ya, bedanya memang cukup banyak, 3500 rupiah. Coba dikali 20 hari kerja, Lumayan kan? Saya punya beberapa alasan mengapa Saya memilih kereta ekspress. Pertama, waktu tempuhnya yang lebih cepat. Ya, walau kereta ekonomi AC seringkali datang lebih dulu, tapi, ekspress seringkali waktu tempuhnya lebih cepat. Ngga kelamaan dijalan, ceuk mama teh. Kedua, lebih nyaman. Kereta ekspress biasanya hanya berhenti di Stasiun Sudirman. Artinya, hanya ada satu kali penambahan penumpang. Ngga terus menerus disesaki. Dipaksakan, padahal sudah tidak cocok lagi, eh tidak cukup lagi. *selain itu, di Sudirman yang naik kadang2 mas-mas ganteng yang pulang kantor. Wangi.* *teeeeeet*

Yak, yang ketiga, lebih aman. Seriously. Ketika kuliah, Saya sering naik kereta ekonomi maupun ekonomi AC. Hmm, berhenti di setiap stasiun berarti kesempatan si copet untuk kabur sesaat setelah nyopet itu lebih banyak. Waktu untuk nyopetnya pun lebih banyak. Setara dengan jumlah stasiun yang akan dihampiri si kereta. Ekonomi AC ada copet? Karena berhenti di setiap stasiun, mereka gak perlu beli karcis. Setelah naik, nyopet, turun aja di stasiun terdekat. Biasanya mereka lebih hapal tentang waktu pengecekkan karcis, kan?

Hmm, berhubung kita harus selalu mendukung usaha perbaikkan yang dilakukan, semoga faktor-faktor kenyamanan di atas diperhatikan oleh pengelola Commuter-Line yang tampak seperti baju baru buat Ekonomi AC. Selain itu, kita juga harus paham, kenapa kereta sering mengalami gangguan? Ongkos kereta yang kita bayar selama itu disubsidi. Dan jumlah subsidi yang SEHARUSNYA dibayarkan pemerintah itu cukup banyak. Sayangnya, saya perrnah membaca kalau utang subsidi ini belum dibayarkan oleh pemerintah ke pengelola. Jadi, kalo tarif/ongkos tiket harus terus dipotong, tapi subsidinya ngga dibayar, tambah lagi banyak yang tidak beli tiket, gimana pengelola mau melakukan perawatan?

Ya, kira-kira, itu yang ada di pikiran Saya tentang Commuter Line, eh, perkeretaan. Since, belum pernah naik Commuter Line. Semoga kita bisa saling mendukung dan menjaga fasilitas bersama. Seperti yang ditanamkan sejak SD di pelajaran PPKn dulu. Hmm, termasuk tidak membuang sampah permen, aqua gelas, atau bungkus snack lainnya di dalam gerbong. Ingat, kebersihan sebagian dari iman.



July 12, 2011

Untuk Pengendara Motor yang Baik..

Selain mabuk, hal lain yang berbahaya bagi pengendara (motor) adalah pengendara motor lain yang baru bisa naik motor.

Seriously. Perilaku mereka bisa disetarakan dengan (sebagian besar) pengendara bajaj. Men, hanya mereka dan tuhan yang tahu, kapan mereka mau berhenti, atau belok.

Dear You stupid riders,
Bisa ngegas dan menjaga keseimbangan motor ngga membuat Anda layak menjadi seorang pengendara motor.
Jangan karena motor matic hanya perlu gas dan rem, Anda lantas merasa pantas berkendara di jalan raya. Oh men, percayalah, test mendapat SIM motor gak semudah itu.

Berkendara dengan selamat bukan hanya tentang Anda bisa selamat selama berkendara. Kalo ada orang yang gak selamat karena Anda, itu fatal.
Kalo Anda selamat selama berkendara di jalan, belum tentu karena Anda jago, mungkin karena orang lain yang mengalah, atau mungkin pasrah menghadapi kebodohan Anda.

Anda bukan pembalap MotoGP. Motor Anda dilengkapi kaca spion. Dua buah. Kalo posisi spion Anda sudah berdoa, menengadah ke atas, bagaimana Anda bisa melihat kendaraan lain di belakang Anda.
Motor Anda juga punya lampu sen. Bukan hanya sebelum belok, sebelum Anda pindah lajur, berikanlah tanda untuk kendaraan di sekeliling Anda. Sebelum pindah/belok, jangan lupa, sekali lagi, LIHAT SPION, mbak.

Seriously, berkembangnya motor matic berkorelasi positif dengan kekacauan di jalan (gw rasa). Jalan di lajur kanan, tapi kecepatan setara dengan kendaraan di sebelah kirinya, atau malah di sebelah kirinya kosong itu bikin orang pengen nyusul sambil nendang kendaraan Anda.
Dan buat mereka yang suka mengendarai motor pakai 1 tangan, kalo gw nyusul trus ngerem mendadak di depan lo, gw cuma mau tes kesigapan lo. Kalo mau santai, jalan di kampung aja Mas, jangan di jalan raya.

Tapi, ini serius. Ini kenapa tulisan ini dibuat dalam Bahasa Indonesia. Biar pengendara-pengendara motor yang kapasitas otaknya kurang, bisa paham tulisan ini.
Bahwa berkendara dengan selamat itu bukan berarti ANDA saja yang SELAMAT, tapi pengguna jalan yang lain juga TIDAK CELAKA dan TIDAK TERGANGGU KENYAMANANNYA karena ANDA.

BIJAK, JAGA KESELAMATAN ANDA DAN ORANG SEKITAR ANDA.

July 01, 2011

Movie: Something Borrowed (2011)

Persahabatan dan cinta itu memang, tipis-tipis berbahaya. Sengganya, ini yang gw tangkep dari film Something Borrowed. dan hidup gw. Meh.


Rachel (Ginnifer Goodwin) bersahabat sejak kecil dengan Darcy (Kate Hudson). Darcy yang modis dan 'gaul' akan segera menikah dengan Dex (Colin Egglesfield), sahabat Rachel sejak mereka kuliah hukum. Darcy, selalu mendapatkan apa yang ia Inginkan. Itulah yang dilihat oleh Rachel. Hidup mewah, popular, dan dengan kapasitas akademisnya yang kurang, Darcy bahkan diterima di Notre Dame University. Maka, Dex yang tampan dan pintar definitely would choose Darcy than herself. That was what she thought.
Kalo lo dan sahabat lo menyukai cowo yang sama, sementara sahabatlo lebih atraktif dan 'cool', apa yang akan lo lakukan? Memperjuangkan perasaanlo? BOHONG!

Konflik dimulai saat setelah beberapa kejadian, ternyata, Rachel yang menganggap Dex hanya menganggapnya sebagai sahabatnya malah tak sengaja mengungkapkan perasaannya. Dan Dex, yang ternyata menganggap Rachel hanya menganggapnya sebagai sahabatnya, akan segera menikahi Darcy. Sahabat Rachel.

Be honest! Apa lo akan memilih untuk hidup sesuai keinginanlo, atau, lebih sering untuk hidup sesuai harapan orang tentang lo? Kegamangan ini pun terjadi. Rachel ingin menghindari semua ini, karena tidak ada sahabat yang ingin merebut calon suami sahabatnya. Walaupun, keinginannya adalah melakukan hal itu. WHAT WOULD PEOPLE SAY??

Sayangnya, pada saat Rachel memilih untuk mengikuti keinginannya, Dex tidak mampu memperjuangkan keinginannya. Seperti Ia tidak mengikuti keinginannya menjadi guru karen orang-orang di sekitarnya melihat Ia sangat cocok menjadi seorang pengacara. Membatalkan pernikahan bukan sesuatu yang diharapkan orang-orang darinya. Terlebih lagi saat orang tuanya menekan Dex untuk menjaga kehormatan keluarga.

Apa yang terjadi? Tenang, ada Ethan (John Krasinski) sahabat Rachel dan Darcy sejak kecil yang ternyata mengungkapkan perasaannya. Drama belum selesai. Konflik belum usai. Ada Marcus (Steve Howey), sahabat Dex, yang membuat drama semakin seru.

DO WATCH THIS MOVIE! Terlebih lagi untuk Anda, yang seringkali 'mengalah".

poster source



June 28, 2011

Movie: Last Night (2010/2011)

Sebagai perempuan, ketika Anda pergi bersama pasangan Anda, pernahkah Anda melihat sinyal-sinyal bahwa ada perempuan lain yang tertarik pada pasangan Anda? Sialnya adalah, ketika perempuan tersebut cukup atraktif. Hal ini akan lebih parah apabila Ia adalah kolega pasangan Anda.

Saya menonton sebuah film pada pre-release lalu, Last Night. Bercerita tentang kehidupan pernikahan seorang penulis, Joanna (Keira Knitghley) dan Michael Reed (Sam Worthington), seorang pebisnis. Kisah ringan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dalam pernikahan, mungkin juga dalam kisah cinta Anda.

Last Night bercerita saat pasangan ini terpisah pada satu malam karena Michael harus menghadiri business trip bersama koleganya, Laura (Eva Mendez) yang ternyata saling tertarik dengan Michael. Michael berusaha menahan diri dan tetap setia, sementara Joanna ternyata kedatangan tamu, Alex (Guillaume Canet), kisah cintanya yang lalu. Malam seperti apa yang mereka lalui saat mereka terpisah? Bisakah mereka tetap setia satu sama lain?

Geregetan dan deg-degan adalah apa yang Saya rasakan saat menonton film ini. Ya, karena kisahnya ringan, dan sangat nyata. Dan mungkin, pernah kita alami.

Poster: Last Night

poster source

June 22, 2011

Jika Aku Menjadi dan "kemana sih anak-anaknya??"

Weekend lalu gw sempet nonton 'Jika Aku Menjadi' yang tayang di Trans TV. Ya. Intinya adalah memberikan 'kesempatan' untuk orang-orang muda yang lebih beruntung untuk hidup seperti orang-orang yang 'lebih hebat'.
Perempuan hebat yang kisahnya diangkat minggu lalu adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Ia sampai terpaksa makan semacam umbi-umbian karena tidak punya uang untuk makan nasi. Untuk menahan rasa sakit tangannya yang patah, beliau bahkan meminum obat untuk unggas.
Gw nangis aja deh. Kaya digamparin pake ipad deh rasanya.
Tapi ada satu scene dimana peserta bilang bahwa sang nenek sebenarnya merasa kesepian, tapi ia tidak mau mempermasalahkan anak-anaknya yang tidak mengunjunginya.
Yes. Setiap kali gw nonton acara semacam ini, dimana ada orang tua yang tinggal sendiri, di rumah yang tidak lagi layak, gw akan bertanya: kemana sih anak-cucunya?? Tapi, itu dulu.
Dulu? Ya. Gw mengalaminya. Almarhumah nenek gw dulu tinggal sendiri di desa gw. Kami, terutama nyokap gw, bukannya gak mau mengurus beliau. Tapi, seriously, kami seringkali meminta beliau tinggal bersama kami, atau salah satu anaknya, di Jakarta. Tapi, beliau bersikeras tidak ingin meninggalkan rumah tuanya di desa. Alasannya: tidak ada yang mengurus rumah dan kebun. Banyak kenangan yang ada di rumah tersebut. Padahal, kami punya penjaga rumah dan kebun.
Kita harus paham, setiap sudut rumah yang sudah lama kalian tinggali pasti punya kenangan yang akan sulit dilepaskan kan? Tampaknya itu juga yang menjadi alasan orang-orang tua di reality show dan kehidupan nyata sulit untuk meninggalkan 'rumah tua' mereka. Sulit untuk memasukkan kenangan baru dalam memory mereka, dan, sulit untuk kita memaksa mereka untuk melepas kenangan yang telah tertanam. Dan gw, gw sedih banget kalo harus memaksa beliau cuma bisa mengingat rumah itu dalam kenangannya karena harus jauh dari rumah itu. Gw aja kalo lagi BT banget selalu kabur ke rumah itu. Gw akan merasa tenang dan tentram.
Nyokap gw hanya akan memaksa, as in marah, nenek gw untuk ke Jakarta apabila beliau sakit. Kalau beliau sudah sembuh, maka beliau akan memaksa, as in ngambek, untuk cepat kembali ke desa.
Sulit untuk kami mencari 'pendamping' yang sesuai dengan beliau. Beliau masih didikkan Belanda yang tegas, teratur, dan penuh norma. Maka, sulit untuk mencari yang bisa 'patuh' dan bertahan dengan beliau. Untunglah yag terakhir ini tidak ada masalah.
Ya, sekarang gw udah ngga lagi 'sewot' "anak-anaknya kemana sih??" kalo nonton acara semacam ini. Karena, mungkin keturunan nenek gw mungkin masih mampu untuk sering menjenguk beliau. Masih cukup untuk membayar 'pendamping' untuk beliau. Sedangkan yang di tivi? Mungkin keturunan nenek/kakek tersebut memang tidak mampu untuk sering-sering berkunjung, atau membawakan makanan, apalagi harus mencari 'pendamping' bagi orang tua mereka. Dan, seperti nenek gw, mungkin mereka juga gak bisa memaksa orang tua mereka untuk ikut tinggal bersama mereka.
Jadi, gw sudah berhenti untuk nyinyir 'kemana sih anak-anaknya?'

Dan gw, sangat kangen nenek gw. Bobok yang tenang ya Mbah.. :')


June 10, 2011

Coffee-addict Anonymous

Yak, jadi gini ya kawan, saya akan menulis sesuatu yang fungsinya membantu diri saya sendiri.
Saya baru menyadari satu hal.

Hari Sabtu lalu saya mengadakan pelatihan di SMA Gonzaga, dan entah kenapa hari itu saya merasa 'aneh'. Seperti merasa tidak berada di sana. Akhirnya, malamnya saya dan teman saya, Verdi memutuskan untuk keluar dan mencari makanan. Kami pergi ke Indomart. Saya akhirnya keluar dengan segelas kopi panas di tangan.
Verdi kemudian menyadarkan saya, "lo udah addicted ya?" sambil masih berusaha meraba-raba how far 'kecanduan' is, Verdi menambahkan, "lo gelisah banget seharian ini."
YES. Ini jawabannya. Inilah kenapa saya merasa 'aneh' seharian ini. Dan kenapa akhirnya setelah minum kopi saya merasa lebih nyaman. Dan Verdi akhirnya menyadarkan saya. Yes. Minggu lalu saya pergi ke acara keluarga. Hari itu pun saya merasa uring-uringan. Sore harinya akhirnya saya keluar dan membeli kopi. Dan, kalau saya mau lebih jujur pada diri saya sendiri, ternyata memang hal ini sering terjadi. Bedanya, pada saat pelatihan atau acara keluarga, saya tidak seleluasa itu untuk pergi ke dapur dan membuat kopi.
So here I am. Berhenti denying keadaan bahwa saya kecanduan. Saya sudah 2 kali relaps. Dan saya mengundang teman2 yang ingin membantu saya untuk berhenti dari kecanduan ini. Kenapa ini seolah-olah menjadi hal besar? Karena merasa uring-uringan saat ngga bisa ngopi itu mengganggu, kawan. Karena saat otak Anda berhenti bekerja karena belum ngopi juga mengganggu, kawan.
Saya sudah beberapa kali mecoba men-substitusi dengan teh. But, I won't stop drink tea. I have to substitute 2 glasses of coffee with a-whole-day of Tea. Dan, saya pikir, ini ngga kalah -ngga-sehatnya.
Jadi, terimalah undanganku ini, kawan. Kalau ada yang mau membuat intervensi untuk para pecandu kopi-or-at-least-caffeine, Saya bersedia bergabung. Ciao.