cari di sini

June 04, 2010

Anker!

Halo Saya Anker! Minggu ini minggu kedua saya menambahkan atribut pada nama saya.. Roro 'Anker' Puteri.
Senorak-noraknya, saya akan mengaku satu hal. Satu cita-cita saya tercapai: MENJADI PENGGUNA KERETA API. ANAK KERETA (ANKER).
Saya tinggal di daerah Cijantung dan bekerja di BINUS UNIVERSITY, Kemanggisan. Selama ini saya selalu pergi bersama Ayah saya dan menggunakan P6 dari UKI sampai Pal Merah dan melanjutkan dengan Angkutan Umum M11 sampai Kampus Anggrek BINUS UNIVERSITY. Untuk perjalanan pulang, saya biasanya menggunakan M11 sampai Pal Merah, kemudian melanjutkan perjalanan dengan P6, yang sayangnya seringkali hanya sampai UKI. Dari UKI saya harus naik Bus apapun yang mengarah ke Pasar Rebo dan terakhir melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum sampai rumah. Perjalanan pulang biasa saya tempuh 2 sampai 3 jam.
Nah, mulai 3 minggu lalu, saya berpikir untuk menggunakan kereta api. Jadi Sejak 2 minggu lalu (iya, saya memang prokrastinator. Butuh 1 minggu untuk mengeksekusi pemikiran saya) saya mencoba menggunakan moda transportasi ini. Saya harus menggunakan M11 sampai Stasiun Tanah Abang, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta sampai ke Stasiun UI / Stasiun POCIN/ Stasiun Depok Baru. Setelah berlatih selama kurang-lebih seminggu, minggu ini saya menyematkan "Anker" pada nama saya. :D
Perjalanan pulang mungkin tidak jauh berbeda, sekitar 1,5 sampai 2 jam. Tapi banyak pertimbangan yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menjadi Anker *well, norak memang, tapi biarlah, saya memang Anker*. Beberapa pertimbangannya adalah:
1. Jika saya harus menunggu Bus di Pal Merah, suasananya kadang tidak nyaman; sedangkan bila menunggu di stasiun Tanah Abang jauh lebih nyaman. *Mungkin karena bukan jalan raya*
2. Menunggu di Pal Merah, bila hujan datang, luluh lantaklah saya. Di Stasiun Tanah Abang? Saya selamat. :D
3. Kadang-kadang, kereta memang terlambat sehingga saya harus menunggu lama. TAPI menunggu lama di stasiun untuk perjalanan yang jauh lebih cepat ternyata JAUH LEBIH BAIK rasanya daripada cepat mendapat Bus tapi harus MENGANTRE SEPANJANG PERJALANAN pulang.
4. Penuhnya Kereta, ternyata masih lebih manusiawi dibanding Bus yang penuh, DI JALANAN YANG SANGAT PENUH.
5. Dimas selalu siap menjemput saya di stasiun. Apa ada yang bisa mengalahkan? :P

**ongkosnya memang jauh lebih mahal, tapi keuntungan psikologisnya jauh lebih banyak**

mulai dari mana

Banyak yang ingin ditulis. Tapi ternyata ngga sebijak itu untuk meluangkan sediit waktu untu menulis. Maka saya akan mulai sedikit mencicil tulisan-tulisan yang sekarang hanya bisa menari-nari di otak tanpa dibaca. Semoga ia tidak hilang dan meluap atas kepikunan yang akut

May 26, 2010

dan saat aku bersyukur,, aku merasa jauh lebih lega.. dan bahagia..
alhamdulillah.. :)

May 18, 2010

Perempuan

Kisah ini ditulis oleh Tasaro GK, penulis novel best seller “Galaksi
Kinanthi”, ketua FLP Jawa Barat saat ini. Semoga kita bisa mengambil kebaikan dari cerita ini.

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu?
Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.
Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu?
Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.
Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu?
Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu?
Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian?
Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu.
Hanya itu.
Karena aku memang tidak punya apa-apa.
Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu?

Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari.
Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita.

Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kau menyambutku dengan
tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.
Kita bahagia. Sangat bahagia…..

Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga… Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?
Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, "tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa."

Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, "Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda." Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. "Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing."
Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu?

Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. "Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin." Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing.
Terutama … untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang.

Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya?
Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia.
Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku?
Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita?

"Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa.
Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi."
Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas.
Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen.
Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.
Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu.

Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. "Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja," kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya "tentara
kecil" kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. "Pulang saja," katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu.
Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat.
"Istri saya akan melahirkan," kataku yakin.

Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. "Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan," kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang
persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu.
Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku.

Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara "tentara kecil" kita tak pula mau beranjak.

"Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan.
Tapi anak ini kakinya melintang," kata dokter. Aku berusaha tenang.
Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu, Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi.
Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu. Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia.

"Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga," bis ikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata
bagi hidupku.

Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, "Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!"
Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, "Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?" Sebab, Tuhan akan menjawab, "Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?"

Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. "Semua akan baik-baik saja." Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup.
Seandainya aku boleh mendampingi operasimu…. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak … tidak terlalu sendirian. Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, "Aku ada di situ, menemanimu." Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. "Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!"

Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. "Ini anak Bapak…"
Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. "Selamat, ya. Bayinya laki-laki."
Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah... bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia??? Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat.

Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan.
Ingatanku kembali kepadamu. Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. "He is so cute," kata SMS ku kepadanya.
Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta.

Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita.

Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir. Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini.

Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak.

"Terima kasih, Kang," katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata "terima kasih" yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata "terima kasih" mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku.

Mengurusimu dan bayi kita. Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan.
Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia. Ada bisik bangga, "Ini anakku… anak laki-lakiku. " Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu.

Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI… dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji… mulia…dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey? Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu.

(persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)

#berkaca2

May 14, 2010

those chats

i don't know why..
but i love those chats..
Those between the gates chats..
Those I miss sometimes..
There always be an important message in the chat..
about something that we should think about..
or just a simple 'have a good sleep' and 'i love you'.

yes,, i love those between the gates chats..
Right before a kiss for a 'good night'..
Right before i saw your back going further..
*and having a faith that I'll have this kinda chat again*

May 11, 2010

Grateful#3: MY JOB

Grateful#3 is dedicated for it, MY JOB.

I'm working at BINUS UNIVERSITY. -unpaid adv- Here, we have one division named SAC, Student Advisory Center. There are 3 section , Counselling -known as BKM in UI-, Mentoring -highly likely same as UPA in UI-, and Personal Development -like T&D in a company-, HERE I AM.
It is Manga, the one who offered me to join to help him in Mentoring, but (un)fortunately, he didn't get me, since I ran to another section, Personal Development *Sorry Manga, you're Nice, but no thanks* :D
I've been here for almost 3 months, and I can say: I LOVE MY JOB!

I'll give you some reasons why I love my job.

#1. BRAINGASM!
Working in personal development, I feel my brain couldn't stop thinking. We need to modify, update, or even build a new module for workshop or training. So we have to read, google, read, extract, read, translate, google, read, delete, google, read, read, read. Know new things, learn new things, build my own new things. It's Braingasm!

#2. INOVATION
*still connected with reason#1* We really need Inovation here. *and everywhere I guess*.
Talking about New ideas of module and content of training, I'll sum it on Braingasm. Inovation here refers to New Way to attrace those students to join our activities. Learn how to make good publication. Learn how to make an event with the content we want but will be delivered in Their way.

#3. Working Environment
I'm working with people those (mostly) have psychology background. We're humanist. LOL
working with positive people, positive attitude, POSITIVE environment. With this latest reason, I'm bit sure, without 2 previous reason, I'll still enjoy the JOB.

That's all I can share, that's all on my mind that i need to write. Couldn't think too much, my brain is busy.. :))

April 27, 2010

Can I Walk With You?

"Can I Walk With You"
-Indie Arie-

I woke up this morning you were the first thing on my mind
I don't know were it came from all I know is I need you in my life, yeah
You make me feel like I can be a better woman
If you just say you wanna take this friendship to another place

[Chorus:]
Can I walk with you through your life
Can I lay with you as your wife
Can I be your friend 'till the end
Can I walk with you through your life (fades away)

You've got me wondering if you know that I am wondering about you.
This feeling is so strong that I can't imagine you're not feeling it too.
You've known me long enough to trust that I want what's best for you.
If you want to be happy then I am the one that you should give your heart to.

[Chorus]

Now everyday ain't gonna be like the summers day.
Being in love it really ain't like the movies screen.
But I can tell you all the drama aside you
And I can find what the worlds been looking for forever.
Friendship and love together.

[Chorus]

Can I walk with you in your life?
Till the day that the world stops spinning.
Can I walk with you in your life?
Till the day that my heart stops beating.
Can I walk with you in your life?
Can I walk with you
Till the day that the birds no longer take flight
Till the moon is underwater
Can I walk with you
Can I walk with you

This is the moment I've been waiting for
Can I walk with you
Can I walk with you
Can I walk with you

You are everything I've been looking for
Can I walk with you
Creative intellectual
Can I walk with you
Can I walk with you as your wife

April 24, 2010



Aku yakin di sana lebih nyaman. Selamat jalan Mbah, kami semua sayang mbah..